Pada tulisan sebelumnya yaitu “3 Prinsip Dasar Sederhana Untuk Terbebas Dari Lingkaran Setan“, saya sudah sedikit membahas sebuah prinsip dasar Don’t Try to Control What You Can’t Control. Namun ternyata saya merasa terpicu untuk membawanya ke dalam sebuah tulisan tersendiri agar bisa lebih jelas memaparkan tentang mindset ini. Silahkan disimak penjelasan berikut.

Dimulai Dari Diri Sendiri

Suatu perkembangan dan transformasi diri sejatinya dimulai diri kita sendiri. Kita tidak bisa terus-menerus menunggu lingkungan sekitar kita berubah, baru setelah itu kita berubah. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika ternyata lingkungan sekitar kita memutuskan untuk tidak berubah?

Apakah kita tidak akan menjadi pribadi yang lebih baik untuk selamanya? Ingin tetap hidup dalam kemarahan, stress, ego, depresi, atau angan-angan selamanya? Tentu tidak dong. Beberapa orang bahkan ingin mengubah orang lain, tetapi tidak dengan dirinya sendiri.

Contoh yang paling sering saya temukan di keseharian adalah banyak orang yang menjalani suatu hubungan dan berharap bahwa pasangannya akan berubah. Semakin lama, harapan berkembang menjadi ekspektasi dan ketika hal itu tidak terpenuhi (pasangannya tidak kunjung berubah) maka sampailah pada kekecewaan.

Kabar buruknya, kita tidak akan pernah bisa mengubah dan mengontrol orang lainYang bisa kita ubah dan kontrol sesungguhnya hanyalah diri kita sendiri. Terkadang kita malah sibuk mengkritik dan mengoreksi orang lain, tetapi lupa melihat pada dan bercermin pada diri kita.

Misalkan, Anda punya masalah dengan pacar, teman, atau atasan yang menyebalkan. Sebelum sibuk misuh-misuh, berharap, dan menuntut mereka berubah, cobalah sejenak melihat dan bercermin ke dalam diri Anda sendiri.

Apa yang kira-kira membuat dia memperlakukan Anda seperti itu? Mungkin karena Anda sulit berkata tidak kepadanya. Mungkin karena Anda tipe orang yang sering menyalahkan orang lain atau diri sendiri. Mungkin Anda orangnya terlalu curiga. Mungkin juga Anda orang yang selalu memendam amarah, dan lain sebagainya.

Tanpa kita berkata-kata, sebenarnya orang bisa membaca apa yang kita pikirkan dan rasakan melalui vibrasi energi yang dikeluarkan saat berinteraksi dengannya. Sehingga terkadang, meskipun kita sudah menata kata demi kata sedemikian rupa agar berdampak baik, tapi orang tersebut tetap menyebalkan. Itu bisa terjadi karena pikiran kita tetap penuh dengan hal negatif tentang orang itu yang membuat ia merasakan vibrasi negatif dari kita. Atau, bisa jadi orang tersebut memang menyebalkan.  ?

Saya beri contoh.  Coba bandingkan apa yang Anda lihat dan Anda rasa ketika berbicara dengan orang yang sedang merasa bahagia dan orang yang sedang galau.

Apakah Anda bisa melihat dan merasakan perbedaannya?

Implementasi Di Keseharian

Selama saya praktik hypnotherapy, tak jarang saya didatangi ibu-ibu atau bapak-bapak yang mengeluhkan anak mereka. Beberapa orang lainnya mengeluhkan tentang orang tua atau pasangan mereka. Mereka mengeluhkan sikap yang tidak mereka sukai dari orang-orang yang mereka sayangi.

“Mas, bisa bantu anak saya?”

“Mas, bisa bantu suami saya?”

“Mas, bisa bantu pacar saya?”

“Mas, bisa bantu orang tua saya?”

Saya mengerti, pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena dilandasi rasa sayang mereka kepada keluarga atau pasangannya. Tapi percayalah, kita tidak akan pernah bisa menolong orang yang tidak mau menolong dirinya sendiri. Kita juga tidak bisa mengontrol orang lain, yang bisa kita kontrol hanyalah diri kita sendiri.

Terus saya harus gimana dong mas? Agar orang yang saya sayangi itu bisa berubah jadi lebih baik.

Silahkan benahi diri Anda sendiri. Bisa dengan membenahi cara kita merespon suatu masalah, bisa juga dengan membenahi cara kita melakukan approach dengan orang yang kita sayangi atau kita tuju tersebut, dan lain sebagainya. Stop untuk berusaha mengontrol apa yang tidak bisa kita kontrol.

Saat kita membenahi diri sendiri, respon dan perilaku kita kepada orang lain akan turut berubah. Cara kita merespon perlakuan menyebalkan juga berubah. Dengan respon kita yang berubah, kemungkinan besar orang itu akan berubah juga. Ya, perubahannya bukan karena kontrol, paksaan, atau harapan kita, melainkan atas dasar keputusannya sendiri.

Jadi, daripada sibuk mengharapkan orang lain untuk memperbaiki diri atau berubah, mungkin sudah saatnya  untuk memberi perhatian kepada diri kita untuk kembali dan menjadi pribadi yang lebih baik. Mengontrol perkembangan, pembenahaan, dan perubahan diri kita adalah solusi nyata yang bisa kita tempuh.

Berdasarkan pengalaman saya, ketika Anda mengubah diri menjadi lebih baik, seluruh dunia di sekitar Anda pun akan merespon perubahan itu. Sekarang giliran Anda  untuk mencoba dan merasakan sendiri manfaatnya.

Semoga tulisan kali ini memperjelas tentang prinsip “Don’t Try to Control What You Can’t Control“.