Kekecewaan sepertinya merupakan bagian yang tak dapat kita pisahkan dalam kehidupan. Semua orang pasti pernah merasa dan mengalaminya. Kekecewaan terjadi karena kehidupan yang kita harapkan berjalan mulus, mudah, dan sesuai rencana, ternyata berbalik menjadi sesuatu yang rumit, penuh liku, dan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Tapi, tahukah Anda bahwa ternyata diri kita memiliki andil dalam kekecewaan yang kita alami? Kekecewaan tidak terjadi begitu saja, kitalah yang merencanakannya!

Makin penasarankan? Yuk kita bahas lebih lanjut!

Proses Kekecewaan Menurut NLP

Jika kita menggunakan NLP untuk memodelkan kekecewaan, kita bisa mengenali sejumlah kunci dalam proses kekecewaan.

  1. Anda memerlukan gambaran rinci tentang bagaimana suatu hal akan atau seharusnya terjadi.
  2. Kemudian Anda meluangkan waktu untuk mengembangkan gambaran ini, membuatnya ideal dan praktis mulai hidup di dalamnya.
  3. Akhirnya Anda membandingkan realitas dengan fantasi Anda dan merasa kesal karena gambaran keduanya sama sekali tidak cocok!

Tentu saja proses di atas hanya akan menghasilkan kekecewaan yang ringan. Untuk mengalami kekecewaan NYATA, yaitu kekecewaan yang mengarah pada depresi dan kemarahan, Anda harus menghabiskan waktu untuk mencaci-maki fakta bahwa kedua gambar realitas dengan fantasi tadi tidak cocok.

Anda bisa menambahkan bumbu dengan cara mencari kambing hitam untuk ketidakcocokan tersebut, sehingga Anda bisa menyalahkan siapa pun atau apa pun, kecuali diri Anda sendiri!

Contoh Kasus

Saya akan coba berikan contoh kasus dalam konteks hubungan karena banyak dari kita yang menjalankan pola yang dapat diprediksi di sini.

Anda bertemu dengan seseorang, Anda kemudian jatuh cinta dengan mereka. Seiring berjalannya waktu Anda mulai membuat gambar fantasi masa depan. Anda membuat blue print untuk hubungan Anda dan untuk hal-hal yang akan terjadi dalam waktu 1 tahun, 5 tahun atau bahkan 10 tahun. Blue print ini adalah rencana Anda tentang bagaimana hubungan Anda ke depannya.

Kemudian berbulan-bulan atau bertahun-tahun ke depan, Anda melihat gambaran realitas. Menemukan jika hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada kemiripan dengan blue print yang Anda buat sebelumnya.

Anda mulai menyalahkan mereka karena tidak menjadi orang yang Anda harapkan! Hingga di titik tertentu Anda mengatakan padanya “Kamu Berubah!” seolah-olah ini adalah dosa besar. Tentu saja karena dalam versi realitas Anda mereka tidak mengikuti rencana Anda.

Mereka telah membuat Anda kecewa hingga mengomel : “Hidup ini tidak adil! Apakah tidak bisa sekali saja semua berjalan sesuai dengan keinginanku? Kenapa dia tidak mengerti aku? dan lain sebagainya”.

Mungkin sampai di sini sebagian dari Anda ada yang merasa, “Itu aku banget kayaknya!”. 😉

3 Langkah Mengurangi Kekecewaan

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengatur diri untuk mengurangi kekecewaan dalam hidup kita? Ikuti tiga langkah berikut ini :

  1. Akui bahwa kekecewaan adalah bagian dari dinamika hidup. Sangat menyenangkan untuk mengharapkan sesuatu dan membiarkan diri kita berfantasi. Namun, merujuk pada contoh kasus di atas, kita pun harus fleksibel dalam merespon segala sesuatu yang terjadi di realitas.
  2. Ketahuilah bahwa realitas tidak akan persis sepenuhnya sama seperti fantasi atau harapan Anda dan mungkin bisa jadi sama sekali tidak mendekati itu. Oleh karena itu, terus perbarui fantasi Anda menggunakan feedback yang berasal dari realitas di dunia nyata.
  3. Akui penyebab kekecewaan Anda adalah Anda (tepatnya, cara Anda menggunakan pikiran Anda) dan pahami bahwa tidak ada gunanya menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam karena tidak memenuhi fantasi Anda.

Dengan mengikuti langkah di atas kita akan semakin sadar dengan proses terciptanya kekecewaan yang ada pada diri kita, sehingga dengan mudah kita bisa terus memperbarui  gambaran realita dan fantasi menjadi lebih sikron tidak terlalu timpang.

Contoh Penerapannya

Nah, di bagian ini kita akan coba implementasikan tiga langkah mengurangi kekecewaan ke dalam contoh kasus yang sudah kita urai di atas.

Mengharapkan orang lain untuk berperilaku sesuai dengan rencana dan blue print adalah perbuatan tidak adil untuk mereka. Banyak dari kita yang tampaknya masih belum menghargai hal ini. Apalagi sampai berkata, “Jika dia benar-benar mencintaiku maka dia harus melakukan seperti yang aku pikirkan.”

Hal yang dapat membantu agar hubungan bisa berjalan dengan baik adalah berbagi tentang impian, harapan, dan fantasi satu sama lain tentang hubungan yang sedang dijalani. Dengan begitu, kedua belah pihak akan dapat menyesuaikan fantasi mereka berdasarkan apa yang juga orang lain pikirkan.

Cara tersebut bisa meminimalisir kekecewaan yang terjadi dalam hubungan, membuat hubungan lebih harmonis, dan sama-sama mewujudkan impian, harapan, dan fantasi satu sama lain.

Kesimpulan

Cara termudah untuk membebaskan diri dari pola kekecewaan adalah dengan menyadari saat Anda melakukan dan memasuki pola tersebut. Dengan cara ini Anda akan merasa secara bertahap lebih sedikit merasa kecewa, durasi kecewa yang jauh lebih singkat, dan intensitas kecewa yang jauh lebih kecil.

Tidak ada gunanya mencoba untuk tidak memiliki ekspektasi. Bagaimanapun juga bukan fantasi itulah masalahnya. Masalah utamanya adalah Anda tidak memperbarui dan tidak mengakui bahwa orang lain juga memiliki fantasi yang berbeda dengan Anda.

Tetap jagalah impian Anda, optimisme Anda, harapan Anda, dan fantasi Anda. Dengan cara dan pendekatan yang tepat semua bisa kita tangani dengan baik.

Seperti kata bijak yang sering kita dengar, “Selalu ada hikmah dan pembelajaran dari setiap kejadian”. Yuk mulai kita atur pikiran dan diri kita sebaik-baiknya, agar perjalanan hidup kita semakin menyenangkan!

Semoga bermanfaat!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here