Kapan kita terakhir kali memperhatikan dan mendengarkan detak jantung kita? Organ inti yang tidak ada liburnya terus berdetak sedari kita lahir sampai saat ini.

Menurut penelitian dengan mendengarkan detak jantung, seseoranng jadi lebih aware dengan keadaannya. Bahkan, mampu dalam menerima dan juga memahami emosi orang-orang di sekitarnya. Selain itu, melatih kemampuan mendengarkan detak jantung bisa membantu mengendalikan diri bagi orang yang mengidap autisme dan skizofrenia.

Coba Anda dengar dan perhatikan detak jantung Anda sekarang. Perhatikan dan fokus sejenak pada detak jantung Anda. Apa ada emosi atau sensasi yang Anda rasakan ketika fokus mendengarkan detak jantung Anda? Jika ada proses tersebut disebut interosepsi, yaitu tahap pemahaman internal dengan bisa merasakan sinyal tubuh. Memang perlu dilatih.

Anda bisa saja bertanya, bukankah setiap orang sudah bisa memahami itu?

Tidak semua, banyak orang yang justru salah menafsirkan sinyal tadi sehingga salah pula menerjemahkan emosi yang dirasakan. Bingung, bilangnya jengkel. Sinyal merasa terganggu, ditafsirkan sinyal marah.

Orang-orang yang mengidap autisme dan skizofrenia pun seperti itu, para peneliti mengemukakan bahwa mereka kesulitan memahami sinyal tubuh.

Para peneliti menduga, jika interosepsi sangat penting dalam memahami cara berpikir orang lain, bahkan membantu kita dalam menebak apa yang orang lain pikirkan. Kok bisa? Sederhana nya begini, jika kita sudah mahir menerjemahkan emosi kita sendiri, kita akan lebih mudah menerjemahkan pikiran orang di sekitar kita.

Untuk menginvestigasi hal ini, Geoff Bird, seorang peneliti dari Universitas Oxford, meminta 72 partisipan untuk menghitung detak jantungnya sendiri. Proses menghitung dilakukan manual dalam hati tanpa menggunakan alat bantu. Ini dimaksudkan untuk mengukur interosepsi. Setelah itu mereka diminta menonton macam-macam video percakapan sosial. Pada setiap video, terdapat pertanyaan yang harus dijawab partisipan, untuk menguji kemampuan mereka dalam memahami perasaan orang lain.

Hasilnya, partisipan yang menghitung detak jantungnya dengan tepat ternyata menjawab pertanyaan dengan lebih baik. Mereka lebih berempati, dan jauh lebih bisa memahami perasaan orang lain.

Ini menunjukkan bahwa kemampuan kita dalam memahami sinyal tubuh, membantu kita memahami emosi orang lain.

Nah, penasarankan kok cuma dengan mendengarkan jantung efeknya bisa sedahsyat itu? Yuk mari kita latih!

Semoga bermanfaat!