Selama ini kita menganggap bahwa kemampuan dalam membaca dan memahami emosi orang lain sangat penting dalam suatu hubungan, baik itu hubungan dengan keluarga, teman dan pasangan. Namun ternyata membaca dan memahami emosi diri sendiri dengan jelas mempunyai pengaruh yang sama pentingnya dengan memahami emosi orang lain.

Sekarang, coba kita pikirkan tentang keadaan emosi kita saat ini. Bisakah kita dengan pasti mengidentifikasi bagaimana perasaan kita? Apakah perasaan kita sedang benar-benar dalam suasana hati yang baik dan menyenangkan? Atau ada hal yang sedang mengganggu perasaan kita? Jika ada hal yang mengganggu perasaan kita, dapatkah kita menjelaskan dengan benar apa hal yang mengganggu tersebut?

Mungkin sebagian dari kita mengalami kesulitan dalam memahami dan mengungkapkan emosi diri sendiri. Hal tersebut bisa jadi disebabkan oleh kebiasaan kita dalam membiarkan diri dikendalikan oleh akal (otak).

Emosi cenderung dianggap sebagai sesuatu yang lemah. Bahkan di dalam masyarakat kita terdapat suatu paham bahwa lelaki tidak boleh menangis dan perempuan harus bisa memendam perasaan. Katanya sih paham tersebut dimaksudkan agar kita bisa mengendalikan emosi, namun menurut saya, sebenarnya hal tersebut bukan untuk mengendalikan emosi tapi lebih ke mengekang atau menahan emosi. Akibatnya saat emosi kita bergejolak, kita cenderung memikirkan perasaan, bukan merasakan perasaan, karena kita terbiasa membiarkan otak dalam mengendalikan emosi kita.

Memahami emosi diri sendiri mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kesehatan mental. Untuk bisa memahami emosi diri, kita harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi emosi yang kita rasakan. Dalam mengidentifikasi emosi diri sendiri, kita menggunakan persepsi subjektif, karena tidak ada indikator eksternal yang akurat dalam memaknai emosi kita.

kemampuan mengidentifikasi emosi dapat meminimalisasi terjadinya depresi

Dalam kaitannya dengan kesehatan mental, kemampuan mengidentifikasi emosi dapat meminimalisasi terjadinya depresi. Contohnya, dalam suatu situasi mungkin kita bingung terhadap apa yang kita rasakan, apakah kita sedih atau marah. Karena kebingungan tersebut kita bisa saja menghamburkan energi untuk memikirkan apa yang kita rasakan dan mungkin melakukan kesalahan saat mencoba menyelesaikan masalah. Hal tersebut dapat memicu gejala depresi.

Pentingnya memahami emosi diri kita sendiri adalah agar kita bisa mengatasi perasaan itu sendiri. Mengakali bagaimana caranya untuk men-switch saat terjadinya emosi negatif menjadi emosi positif tanpa menahan emosi tersebut. Jangan pernah mengekang emosi. Lepaskan dan ekspresikan. Tapi dengan cara yang bijak ya. Karena jika kita tidak melepaskan emosi, sesungguhnya emosi tersebut sedang bersembunyi di alam bawah sadar kita, dan cepat atau lambat emosi tersebut akan mencari celah untuk keluar. Memendam emosi bisa menimbulkan gangguang fisik dan psikis loh. Jadi, ayo kita belajar memahami emosi diri sendiri agar mental kita sehat.