Pernahkah Anda merasa jatuh cinta? Atau malah sekarang Anda sedang merasakannya? Apa yang Anda rasakan saat jatuh cinta? Feel butterflies in your tummy everytime you meet her/ him? Merasa selalu salah tingkah? Sering memikirkan orang yang Anda sukai? Dan merasakan hal-hal ‘ajaib’ lainnya?

Jatuh cinta merupakan proses alami yang begitu indah, namun ternyata cukup rumit loh.

Ngomong-ngomong, tulisan saya kali ini terinspirasi dari music video terbarunya Tulus yang berjudul ‘Labirin’. Video tersebut menceritakan tentang seorang pria yang menyukai seorang wanita dan berusaha untuk mengetahui segala sesuatu tentang wanita tersebut. Yang menarik perhatian saya adalah setting videonya yang menggambarkan mereka sebagai ilmuwan yang sedang melakukan penelitian di sebuah laboratorium biologi.

Dari hal tersebut, saya jadi ingin mengetahui apa yang terjadi di otak dan tubuh saat kita sedang jatuh cinta. Apakah ada penjelasan ilmiahnya atau tidak.

Kita mungkin sering mendengar ungkapan “Urusan cinta itu persoalan hati, bukan logika.” Namun ternyata menurut ilmuwan, organ yang berperan penting saat kita jatuh cinta bukan hati, tapi otak. Di dalam otak terdapat beberapa senyawa kimia yang ikut ‘bermain’ saat kita sedang jatuh cinta.

Berdasarkan penelitian Helen Fisher, seorang peneliti dari Universitas Rutgers, kimia dan cinta adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Fisher, ada tiga tahap dalam cinta yang dipengaruhi oleh hormon dan senyawa kimia yang berbeda. Tahapan tersebut adalah:

Tahap satu: hasrat/ keinginan

Adanya keinginan terhadap lawan jenis merupakan tahap awal jatuh cinta. Pada tahap ini dipengaruhi oleh hormon estrogen dan testosteron pada wanita dan testosteron pada pria. Biasanya keinginan terhadap lawan jenis dimulai dari masa pubertas.

Tahap dua: daya tarik

Tahap ini sering disebut sebagai salah satu momen indah di dalam hidup. Pada tahap ini, seseorang sedang benar-benar merasakan jatuh cinta. Orang yang sedang berada di tahap ini akan menjadi lebih sering melamun, memikirkan orang yang disukai, obsesif, kurang tidur bahkan sampai kehilangan nafsu makan.

Secara ilmiah, di tahap ini seseorang akan mengalami perubahan drastis atas kepribadiannya yang melibatkan tiga neurotrasmiter, yaitu:

  • Adrenalin

Jika Anda merasa jantung berdetak lebih cepat, berkeringat lebih banyak, mata melebar, cemas dan gelisah saat tidak sengaja bertemu dengan orang yang disukai, hal tersebut merupakan pengaruh meningkatnya pelepasan adrenalin dari ujung saraf.

Penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara adrenalin dan daya tarik. Semakin tinggi tingkat adrenalin dalam tubuh, maka semakin tinggi pula daya tarik orang yang Anda sukai.

  • Dopamin

Dopamin merupakan salah satu hormon yang disebut ‘feel-good hormones’. Pelepasan dopamin dalam tubuh memicu rasa senang yang intens. Dopamin memiliki efek yang sama pada otak seperti setelah mengonsumsi ekstasi.

Pada orang yang sedang jatuh cinta, kadar dopamin di dalam tubuhnya sangat tinggi. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya energi, tidak mudah lelah, berkurangnya nafsu makan, berkurangnya kebutuhan untuk tidur dan perhatiannya lebih fokus.

  • Serotonin

Serotonin berperan penting dalam menyeimbangkan suasana hati. Serotonin mempunyai andil besar yang membuat Anda terus menerus memikirkan orang yang Anda sukai, ingin selalu melihat wajahnya dan mendengar suaranya. Maka tidak heran jika orang yang sedang jatuh cinta ingin selalu bertemu.

Menurut Sandra Langeslag (2012), terdapat perbedaan kadar serotonin pada pria dan wanita saat jatuh cinta. Kadar serotonin pada pria lebih rendah dibandingkan wanita.

Tahap tiga: ikatan

Jika Anda dan pasangan sudah berhasil melewati dua tahap sebelumnya dengan baik, maka ikatan satu sama lain akan semakin kuat. Dan hal tersebut menunjukkan bahwa Anda sudah bisa berkomitmen. Pada tahap ini, ikatan Anda dan pasangan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Di tahap ikatan ini, melibatkan dua hormon dalam tubuh yang menarik individu untuk mempertahankan perasaan cinta pada pasangannya, yaitu:

  • Oksitosin

Oksitosin atau yang sering disebut ‘cuddle hormone’ dilepaskan secara merata pada pria dan wanita yang berbagi perasaan romantis. Hormon ini juga dapat membantu meningkatkan komunikasi antara Anda dan pasangan.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Social Cognitive and Affective Neuroscience, oksitosin terkait dengan pembentukan, pemeliharaan dan keterikatan pasangan.

  • Vasopresin

Vasopresin merupakan hormon yang penting untuk meningkatkan hubungan jangka panjang. Vasopresin bertanggungjawab untuk mengubah daya tarik menjadi hubungan yang matang, berkomitmen dan menjaga cinta agar tetap hidup dari waktu ke waktu. Vasopresin juga dikenal sebagai hormon monogami. Hormon cinta ini membawa perasaan tenang, aman, nyaman dan keinginan untuk melindungi satu sama lain.

Jangan sampai kadar vasopresin dalam tubuh berkurang dan menyebabkan ikatan Anda dan pasangan melemah. Karena bisa jadi salah satu dari Anda atau pasangan tidak dapat mencegah diri dari ketertarikan terhadap orang lain.

Nah ternyata jatuh cinta melibatkan banyak mekanisme dan reaksi kimia di dalam otak. Semoga ulasan di atas dapat memberi manfaat untuk Anda 🙂