Kita mungkin sering menggunakan kata bahagia, bahkan juga sering mencari berbagai macam cara untuk bahagia, tapi pernahkah kita benar-benar memahami apa itu bahagia? Apakah bahagia itu sederhana?

Secara harfiah, bahagia dapat diartikan sebagai suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan, kesenangan, kepuasan, cinta, kenikmatan yang intens. Sederhananya bahagia itu adalah keadaan pikiran atau perasaan saat kebutuhan dasar kita sebagai manusia terpenuhi.

Banyak orang salah kaprah bahwa untuk bahagia itu kita harus terlebih dulu memenuhi syarat yang rumit. Misal bahagia itu kalo sudah punya rumah, mobil, atau sudah punya pasangan. Masih banyak pula yang katanya ingin bahagia tapi masih menggantungkan kebahagiaannya pada orang lain. Sekalinya orang lain tidak bisa memenuhi ekspektasinya, dunia seakan kiamat, seperti tidak ada orang di dunia ini yang bisa mengerti dia.

Dari pengertian bahagia di atas, bukankah bahagia itu sederhana? Jika Anda masih merasa sulit untuk bahagia, 4 poin berikut bisa jadi indikator untuk menilai apakah cara yang diri Anda tempuh sudah tepat untuk bisa bahagia?

Ketahui Kebutuhan dan Keinginanmu

Cobalah untuk jujur pada diri sendiri, tentang apa yang Anda rasa, apa yang Anda inginkan, dan apa yang Anda butuhkan. Terdengar mudah bukan? Realitanya, jujur pada diri sendiri bukanlah hal yang mudah. Banyak orang bahkan tidak berani mengakui keinginan dan kebutuhannya, memilih untuk menyimpan rapat-rapat, menekan, atau mengabaikan. Kebiasaan ini seringkali bisa membuat Anda hilang arah, bingung menentukan apa yang Anda butuhkan dan apa yang Anda inginkan.

Belajar untuk jujur pada diri sendiri sejenak, tanpa harus peduli pada penilaian orang lain. Buat list kebutuhan (bukan cuma benda, finansial, karir, tapi juga soal perasaan), keinginan, juga hal-hal yang Anda sukai. Dengan begitu Anda sekarang memiliki PETA KEBAHAGIAAN.

Dari list yang sudah Anda buat cobalah susun berdasarkan prioritas. Mana yang bisa Anda lakukan segera mungkin, mana yang harus Anda tunda dulu (misal, harus nabung terlebih dulu).

After that, Do What You Can Do!

Stop kebiasaan membuat syarat untuk bahagia

Seperti yang telah disinggung di atas, orang seringkali memperumit jalan mereka untuk bahagia. Karena menurut mereka bahagia itu harus selalu identik dengan uang banyak, rumah, mobil mewah, punya pasangan atau sesuai dengan standar masyarakat tentang idealnya sebuah kebahagiaan.

Menggantungkan kebahagiaan dengan syarat-syarat yang harus Anda penuhi terlebih dulu sama dengan Anda menunda dan memaksa Anda untuk tidak bisa bahagia sampai syarat itu bisa dipenuhi. Nah, yang jadi pertanyaan berapa lama Anda bisa memenuhi syarat itu? 1 hari? 1 minggu? 1 bulan? atau bahkan bertahun-tahun?

Misalkan jika Anda baru bisa memenuhi syarat itu 5 tahun ke depan, sanggupkah Anda menahan diri untuk tidak bahagia selama 5 tahun?

Benar, uang, harta benda, jabatan, dan lain sebagainya bisa membuat kita lebih bahagia. Karena dengan uang, harta benda dan jabatan kita akan punya kemudahan. Tapi hal itu bukanlah komponen utama kebahagiaan, hanya sebatas alat saja.

Bahagia itu sederhana kok, kita sedang ingin beli ice cream atau semangkuk bakso dan bisa langsung bergegas membelinya sudah bisa membuat diri kita bahagia. Yang ingin saya tekankan disini adalah Anda layak dan bisa untuk bahagia SEKARANG!

Stop kebiasaan menggantungkan kebahagiaan pada orang lain

Terkadang ketika kita sudah melakukan yang terbaik untuk pasangan, teman, atau keluarga, secara langsung maupun tak langsung kita punya dorongan untuk mendapatkan feedback yang baik dari mereka. Ingin merasa dimengerti, ingin mendapat perlakuan baik, atau bahkan ingin mendapatkan kasih sayang yang lebih dari mereka. Itu wajar kok, manusiawi.

Memang ketika kita bisa mendapatkan feedback yang baik dari orang lain itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Namun apakah hanya itu cara untuk bahagia?

Kita sering lupa, bahwa diri kitalah yang bertanggung jawab pada kebahagiaan diri kita sendiri. Sementara kebahagiaan yang kita dapatkan dari orang lain hanya merupakan bonus.

Kasarnya, meski tak ada orang yang peduli dengan diri kita, kita layak dan bisa berbahagia kok. Bahagiakan diri kita terlebih dulu, selebihnya kita tinggal menerima dan menikmati bonus kebahagiaan dari feedback orang-orang sekitar kita. 😉

Being in the moment

Being in the moment, adalah cara yang tepat untuk meningkatkan kebahagiaan. Adjie Silarus dalam bukunya yang berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh, mengemukakan bahwa ketika kita bisa menyelaraskan apa yang sedang kita lakukan dan apa yang sedang kita pikirkan kita bisa mendapatkan ketenangan karena kita bisa menikmati moment yang sedang dialami.

Saya teringat sebuah ungkapan, “Menikmati itu sekarang, bukan besok, atau lusa. Sekarang, saat ini, tepat pada saatnya.” Saya setuju dengan ungkapan tersebut karena memang yang namanya menikmati itu harus tepat pada saat terjadinya, setelah itu bukan menikmati tapi mengenang. Contohnya saat Anda makan, kapan waktu menikmatinya? Pada saat makanan itu masuk ke mulut Anda bukan? 😉

Begitupun untuk bahagia, sinkronkan pikiran Anda dan hal-hal yang Anda lakukan. Lakukan prinsip One Thing, jika Anda sedang makan, makanlah dulu, nikmati makanannya. Jika Anda sedang bekerja, fokuslah bekerja dulu, hindari pikiran Anda melayang kemana-mana. Dengan begitu Anda bisa menikmati setiap hal yang Anda lakukan dan jauh lebih bahagia daripada sebelumnya. 😉

Semoga bermanfaat!