Dalam satu studi yang diliput oleh majalah Times. Yongey Mingyur Rinpoche seorang biksu di Tibet disebut sebagai manusia paling bahagia di dunia. Sebenarnya, apa yang membedakan dia dengan diri kita? Apakah benar bahwa dia sebagai manusia yang paling bahagia, tidak pernah merasakan kesedihan, sakit hati, kecewa, dan lain sebagainya? Tahukah Anda jika ia ternyata pernah mengalami kepanikan akut semasa kecilnya?

Kisah Masa Kecil Yongey Rinpoche
Sebagai pria yang mendapatkan julukan sebagai “Manusia Paling Bahagia di Dunia”, tak berarti bahwa Yongey Mingyur Rinpoche tak pernah mengalami kecemasan atau panik dalam hidupnya. Sebaliknya, pria yang lahir di sebuah desa di Nepal ini sudah merasakan serangan panik sejak usia sangat belia.

Ketika usia tujuh atau delapan tahun ia terkena serangan panik. Kemudian ia berusaha mencari cara mengatasinya. Di usia 9 tahun, ia berpikir bahwa ayahnya yang merupakan guru meditasi bisa mengajarinya untuk mengatasi serangan panik tersebut.

Tetapi saat itu Yongey kecil merasa sungkan meminta sang ayah, guru meditasi terkenal Tulku Urgyen Rinpoche, untuk mengajarinya meditasi. Yongey kecil merasa dirinya mungkin bodoh dan masih terlalu muda untuk belajar. Ia pun kemudian menemui sang ibu, dan mengutarakan niatnya untuk belajar pada sang ayah.

Ibunya mengutarakan bahwa itu adalah ide yang baik. Tapi sekali lagi ia merasa malu untuk menyampaikan pada ayahnya. Rupanya ibunya lalu menyampaikan pada ayahnya hingga suatu hari ayahnya mendatangi Yongey dan bertanya apakah ia ingin belajar meditasi. Setelah itu, ayahnya mengajarinya teknik meditasi sederhana untuk mengatasi panik.

Jika umumnya orang mencari solusi dari luar diri untuk mengatasi segala permasalahan dan kecemasan dalam hidup, ayah Yongey malah berpesan untuk menemukan ketenangan dari dalam diri dengan melatih pikiran. Pesan dari sang ayah rupanya menjadi benih kecintaan ia pada meditasi dan membawanya pada jalan hidupnya kini.

Namun rupanya belajar meditasi tak semudah yang dibayangkan Yongey kecil. Ia menyukai ide tentang meditasi untuk mengatasi serangan paniknya, tapi enggan berlatih dan menerapkan tekniknya. Saat berlatih ia merasa bosan. Contohnya ketika ia berpikir untuk melakukan meditasi selama 20 menit, biasanya ia hanya melakukan selama 5 menit.

Kondisi itu yang membuat serangan panik yang ia alami tidak benar-benar bisa diatasi. Serangan panik itu selalu datang kembali.

Respons Yongey
Usia 13 tahun, Yongey memutuskan untuk melakukan retret tradisional selama tiga tahun di India. Pada waktu itu ia berpikir mungkin retret itu bisa mengatasi kemalasannya.

Pada tahun pertama retret, serangan panik yang menghampiri Yongey semakin parah karena kemalasan tetap menyertai. Panik dan kemalasan tentu bukanlah kombinasi yang menyenangkan.

Beberapa bulan setelah menjalani retret tradisional dan diteror panik, Yongey bertanya pada diri sendiri, apakah dia mau menghabiskan dua tahun sisa masa retretnya dengan tetap malas atau menghadapi serangan panik itu dengan disiplin berlatih meditasi.

Sejak saat itu Yongey-pun mulai rajin berlatih. Ia menyadari bahwa masalah utamanya adalah terlalu ingin mengenyahkan serangan panik yang kerap menghampiri. Semakin dia ingin mengusir serangan itu, semakin dia merasakan penolakan yang besar dari dalam dirinya.

Hingga suatu hari Yongey mulai bisa menerima serangan panik tersebut dan berdamai dengan diri sendiri. Dia pun bisa menikmati sisa masa retret dua tahun dengan lebih menyenangkan. Tak hanya itu, murid meditasi yang semula pemalas kini malah dipercaya untuk menjadi guru termuda di Biara Sherab Ling. Dia bertanggung jawab membimbing para biksu dan biksuni yang berusia di atasnya berlatih meditasi.

Kesimpulan
Dari cerita di atas saya memiliki pemikiran, bahwa orang-orang yang bahagia bukan berarti sama sekali tidak mengalami hal-hal tersebut. Akan tetapi, mereka punya respons berbeda dengan orang kebanyakan, setiap kali ada masalah yang menghampiri.

Ketika mengalami masalah yang biasanya membuat kita jatuh, mereka punya cara untuk berelasi dengan perasaan atau pikiran mereka yang naik turun. Lucunya, kebanyakan orang tiap kali merasa sedih justru sibuk mengabaikannya dan melakukan hal lain. Seperti berangkat kerja, pergi belanja, membeli barang yang diinginkan, hangout dan lain sebagainya. Mereka tidak melihat bagaimana perasaan mereka yang sesungguhnya.

Mereka justru ingin melarikan diri dengan cara mengalihkan perhatian mereka dari masalah yang ada. Padahal, biasanya hal ini justru membuat mereka merasa semakin berputar di dalam lingkaran masalahnya~ bukan keluar dari masalah itu.

Saya tahu, bahwa baik perasaan yang positif maupun negatif itu selalu datang silih berganti. Ada saat kita merasa bahagia, optimis, dan damai. Ada pula saat kita merasa sedih, kecewa, marah, dan sakit hati.

Biasanya setiap kali kita menghadapi kebahagiaan, kita berusaha mempertahankan kebahagiaan itu. Sementara sebaliknya, ketika sedih, kita berusaha kerasa untuk menolak kesedihan itu. Mungkin yang kita perlukan hanya menerima apa adanya. Menerima saat rasa itu datang dan pergi.

Jadi, bila suatu saat ada perasaan negatif yang muncul dalam diri, izinkan diri Anda lebih terbuka dan lebih bijaksana menyikapinya. Daripada berusaha keras melawan dan panik karena rasanya yang tidak enak, lebih baik terima apa adanya dan tahu bahwa apapun yang terjadi pasti akan berlalu. Karena, justru semakin kita menolaknya rasa itu malah semakin besar.

Seiring berjalannya waktu kita akan jadi lebih nyaman dengan perasaan yang tidak mengenakkan dan kita akan jadi lebih mudah untuk mensyukuri apapun yang membuat kita bahagia. Karena kita tahu, bahwa kebahagiaan dan kesedihan itu selalu datang silih berganti. Tak pernah ada yang bisa kita genggam dan simpan dalam waktu yang lama. Tak ada pula yang kita tolak dan hindari terus-menerus.

Kunci : Lakukan Respons yang tepat terhadap sesuatu hal yang sedang kita hadapi.

Semoga bermanfaat,