Apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi konflik?

Well, merenung dari pengalaman akhir-akhir ini dan perbincangan dengan sejawat minggu lalu tentang “misteri kepindahan saya ke tempat kerja yang baru”, awalnya saya berfikir untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun dan dimanapun. Namun pada akhirnya saya merasa perlu untuk menceritakan hal ini pada orang-orang yang mungkin sangat ingin tau.

Berawal dari banyaknya pertanyaan mengenai alasan saya pindah, seperti : apakah dipindahkan oleh instansi, atau saya mengajukan sendiri untuk pindah dari tempat lama ke tempat yang baru seperti info yang beredar di luaran sana, dan jawabannya adalah bisa keduanya “Ya” atau bisa keduanya “Tidak” tergantung dari orang yang menanggapi cerita ini.

Bukan sok misterius, tapi saya tidak akan menjelaskan siapa saya dan kenapa saya begini kepada setiap orang terutama kepada yang membenci saya, karena yang membenci akan tetap mencari kesalahan dan kelemahan saya untuk bisa menjatuhkan saya, dan yang mengenal saya pun tidak akan serta merta iba terhadap saya akan hal ini, sementara yang tidak kenal saya hanya akan “kepo” dan mengatakan “oh ini toh orangnya”.

Tidak akan ada asap kalau tidak ada api! Begitulah pepatah bilang. Yak karena percikan api itu muncul dari gesekan batu-batu keras yang lama-lama membesar dan banyak yang bisa dibakar maka meluaplah api itu semakin membesar, bisa dipadamkan? Ya, seharusnya bisa dipadamkan, apinya melemah atau air yg memadamkan seharusnya lebih besar volumenya untuk bisa membuat api itu padam, lalu bagaimana jika air tidak mampu memadamkan seluruhnya? Tersisa api yg masih menyala disertai asap yang mengepul, apakah bisa kembali dingin seperti semula? Tentu tidak, selalu ada asap dan sisa bekas terbakar, tergantung orang melihat akan berterimakasih kah pada air atau merasa iba pada sisa yang terbakar, atau akan terus memanas-manasi api kecil yg lama kelamaan bisa berkobar kembali. Seperti itulah pengandaiannya, sama halnya kenyataannya pun demikian.

Di saat berada dalam kondisi tersebut, apa yg harus kita lakukan? Menantang api, menyalakan api yg lain untuk berbaur menjadi api yang semakin besar dan panas namun tak menyisakan kebaikan, atau diam tidak tersulut api, atau pergi dari tempat api berkobar tersebut? Apakah pilihan ketiga seolah kita lari dari kenyataan? Tidak, bukan lari dari kenyataan, tapi kita mundurkan langkah kita untuk siap membaca situasi apa yang akan terjadi ke depannya dan bersiap dengan apa yang akan dihadapi di depan bukan tanpa persiapan. Poinnya adalah agar kita lebih siap menghadapi konflik.

Apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi konflik?, berikut yang bisa saya bagi berdasarkan pengalaman pribadi :

1. Ciptakan suasana positif mulai dari dirimu sendiri

“Be the energy you want to attract”. Tebar kebaikan dan kesadaran di lingkungan sekitarmu. Tanamkan dalam diri bahwa berbuat baik dan tulus itu ga mahal dan ga bikin capek. Hal simple yang bisa dilakukan misalnya saat anda masuk di lingkungan baru, anda bisa tersenyum dan menyapa orang yang pertama ditemui, maka selanjutnya suasana manis akan terbina dengan sendirinya.

2. Abaikan mereka yang tidak menyukai kita

Sekeras apapun kita berusaha ingin disukai banyak orang, sebanyak itu pula orang-orang yang akan membenci kita, bersikaplah tak acuh kepada mereka yang mengabaikan kita, dan tak lupa poin 1 ya guys.

3. Tinggalkan masalah pribadi dan hindari perilaku emosional.

Saat konflik akan terjadi, abaikan sifat-sifat negatifmu, jangan terbawa luapan amarahmu. Jika keadaan tersebut sulit dihindari, luapkan emosimu di lingkungan paling aman yang mengerti dirimu, alias menarik diri dari sekitar, temukan titik ternyamanmu.

4. Menerima perbedaan karakter

Sadari bahwa kita terlahir dengan bermacam-macam karakter dimana tidak semua orang harus mengerti kita dan sebaliknya sehingga tidak ada pemaksaan semua harus sesuai ingin kita.

5. Hargai pendapat orang lain dan tidak mematahkannya di depan umum.

Hal paling sensitif yang paling mudah menimbulkan konflik adalah hal ini, seseorang menjadi tersinggung karena merasa tidak dihargai pendapatnya. Sebaiknya dengarkan pendapat orang lain dan jika ada yang kurang sesuai maka cari waktu yang tepat untuk memberinya saran.

Ya, menemukan dunia baru yang bisa membuat kita mengexplore diri kita di dalamnya, menjadi diri sendiri, menjadi energi yang ingin kita ciptakan sendiri adalah cara menciptakan suasana baru yang minim konflik, bukan tanpa tantangan tentunya, akan banyak tantangan di dalamnya. Seperti yang pernah guru saya bilang jangan katakan hambatan pada setiap apa yang menghadangmu, tapi jadikan hal tersebut adalah tantangan dan jawablah tantangan tersebut dengan kerja terbaikmu. Tantangan tidak muncul dari satu sisi, bersiaplah dengan tantangan-tantangan lain yang tidak terduga. Yang harus kamu sadari adalah kamu tidak bisa bekerja sendiri, bentuk inner circle mu sendiri, tentukan orang-orang yang bisa berbagi manfaat denganmu dan pilah orang-orang yang membuat jarak dengan kita, bukan tentang azas manfaat tapi untuk bisa bertukar pikiran tentunya agar bisa menciptakan harmonisasi hubungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here