• Mindset
  • Therapy

Memahami Limiting Belief Dari Cerita Gajah

Hai pembaca 101mind.com, mohon maaf sudah lama tidak ada tulisan baru di blog kesayangan kita ini (lagi). Dikarenakan para penulis sedang vakum untuk berproses sementara di hidupnya masing-masing. Tapi ga perlu khawatir mulai dari tulisan ini publish kami akan berusaha untuk kembali aktif menulis dan berbagi “daging” yang kami temukan selama perjalanan.

Beberapa kali dalam sesi terapi saya menemukan suyet (yang diterapi) kebingungan dalam memahami konsep Limiting Belief yang ada atau bahkan menyepelekan, padahal itu adalah kendala yang menjadi tembok penghalang mereka untuk melangkah ke level selanjutnya dan berkembang.

Definisi Limiting Belief

Limiting belief adalah sebuah keyakinan-keyakinan tentang diri Anda, orang lain, atau lingkungan yang menghambat Anda mencapai tujuan atau merealisasikan apa yang Anda harapkan.

Masih bingung tentang seperti apa limiting belief itu dan seberapa besar efeknya jika itu ada pada diri Anda?

Berikut saya akan ceritakan sebuah cerita tentang gajah.

Cerita Tentang Gajah

Suatu malam ada seorang pemuda yang berjalan melewati sebuah camp pelatihan gajah. Sepanjang jalan ia melihat bahwa gajah-gajah itu tidak diikat dengan rantai. Mereka hanya diikat menggunakan seutas tali yang sepertinya rapuh mengingat gajah memiliki tubuh yang besar dan kuat.

Makin diperhatikan semakin juga ia bingung. “Lho, kok gajah-gajah itu ga berusaha kabur sih? Kan harusnya jika ingin lepas gampang saja tinggal bergerak maka talinya akan putus”, gumamnya.

Saking penasarannya ia akhirnya memutuskan untuk bertanya pada pelatih gajah di sana yang sedang mengisi tempat makan gajah dengan rumput-rumput yang masih kelihatan segar.

“Bolehkah saya bertanya?”, seru pemuda itu pada sang pelatih gajah. “Ya, ada apa anak muda?”, ia disambut ramah oleh sang pelatih gajah.

“Ada yang membuat saya penasaran sejak tadi melewati camp pelatihan ini, saya perhatikan bahwa gajah-gajah di sini hanya diikat dengan seutas tali saja. Apakah mereka tidak berusaha kabur? Padahal seharusnya mereka bisa saja memutus ikatan tali itu dengan mudah”, seloroh pemuda tersebut memuntahkan rasa penasaran yang menghantuinya sejak tadi.

“Ah, mereka tidak akan melakukannya (kabur). Bahkan mereka tidak pernah mencoba sedikitpun”, jawab sang pelatih itu dengan tenang dan terlihat sangat yakin.

“Kok bisa? Mengapa Anda begitu yakin bahwa mereka tidak akan mencoba kabur? Ini makin membuatku bingung!”, pemuda itu makin terheran-heran dengan jawaban sang pelatih.

“Begini anak muda, sedari mereka masih kecil kami menggunakan tambang seukuran itu untuk menjaga mereka agar tidak kabur. Seiring berkembangnya mereka menjadi semakin besar, gajah-gajah itu mempercayai bahwa mereka tidak akan pernah bisa melepaskan ikatan tersebut. Itulah kenapa, bahkan mereka tidak akan pernah mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan itu.”⁣, jawab sang pelatih menjelaskan.

“Begitu ya. Baiklah kalo begitu terima kasih telah bersedia menjawab pertanyaanku. Selamat malam.”, ucap pemuda tadi sembari pamit melanjutkan perjalan.

Pikiran pemuda itu masih berkecamuk. Jika saja gajah-gajah itu bisa mempercayai bahwa mereka tidak bisa melepaskan ikatan yang sebenarnya mereka mampu lepaskan dengan mudah, bagaimana dengan manusia?

Manusia yang bisa berpikir secara kompleks tentu akan memiliki hal-hal yang serupa dan bahkan bisa lebih rumit. Pemuda itu makin berpikir memutar otak.

Ini bukan soal mau atau tidak mau, namun ketika gajah itu atau seseorang yakin bahwa ia tidak bisa maka ia bahkan tidak akan pernah mencobanya sama sekali. Sama sekali.

Pikiran itu lantas membuatnya bertanya pada dirinya, “Bagaimana dengan aku? Apa ada keyakinan-keyakinan seperti itu pada diriku yang menghambat perkembanganku?”.

-Selesai-

Lalu bagaimana dengan diri kita? Tepat sekali termasuk Anda para pembaca sekalian, apakah ada keyakinan-keyakinan seperti cerita di atas tadi pada diri Anda?

Topik ini tentang limiting belief akan jadi pembahasan yang panjang yang menarik. Jika ada yang ingin ditanyakan atau didiskusikan yuk langsung ke kolom komentar. Diskusi terbuka lebar untuk siapapun.

Sampai disini dulu, semoga bermanfaat!

Credit : Image created by kjpargeter – www.freepik.com

Deni Heriyanahttps://deniheriyana.com
Mind Consultant & Therapist, Life Coach, co-founder sekaligus penulis di 101mind.com, dan Part-Time Coder.
Tulisan SebelumnyaBurnout

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Instagram

Most Popular

Ho’oponopono : Metode Terapi Penyembuhan Diri

Ho’oponopono. Satu kata yang disebutkan oleh salah satu member grup yang saya ikuti, konon katanya bisa menjadi solusi mudah untuk meluruhkan emosi negatif dan memori...

Apa Jadinya Kalau Kamu Adalah Seorang Melankolis-Plegmatis?

Pemahaman untuk mengenali diri sendiri tampaknya masih menjadi topik yang sangat disukai oleh kita sebagai manusia. Karena kebanyakan dari kita masih bingung dalam hal...

INFP : Kepribadian Si Idealis

Minggu lalu saya menulis tentang tipe kepribadian MBTI secara general. Kali ini saya akan sedikit mengulas tentang salah satu dari enam belas tipe kepribadian...