Beberapa bulan belakangan ini, publik sedang ramai membicarakan mengenai toxic positivity. Mungkin sebagian orang bertanya-tanya, “Kok positivity bisa jadi toxic sih?”. Sebenarnya toxic positivity itu apa?

Toxic positivity mengacu pada suatu kondisi dimana seseorang mendorong orang lain untuk selalu berpikiran positif disaat tertimpa musibah atau kemalangan tanpa mempertimbangkan perasaan orang tersebut.

Contohnya begini, saat kita sedang mengalami masalah lalu curhat kepada orang lain, alih-alih berempati pada masalah kita, orang tersebut malah menghujani kita dengan kata-kata positif seperti “Sabar ya!”, “Semangat dong!”, “Be positive aja!” atau kata-kata sejenis lainnya.

Padahal mungkin kata-kata positif itu tidak membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan atau malah mereka sudah muak mendengar kata-kata tersebut. Bahkan seringkali kata-kata penyemangat itu membuat orang merasa lebih buruk.

Disadari atau tidak, kita pasti pernah mengalami hal tersebut. Baik itu menjadi orang yang “memberi” toxic positivity atau orang yang “menerima” toxic positivity.

Positivity culture bisa jadi merupakan penyebab terjadinya toxic positivity. Masyarakat sudah terlanjur meyakini bahwa segala sesuatu yang positif itu baik dan yang negatif itu buruk. Orang-orang pun sudah sangat percaya bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan harus dengan berpikiran positif dan optimis.

Dengan adanya toxic positivity ini, banyak orang berusaha menyembunyikan rasa kecewa, sedih, marah dan emosi-emosi negatif lainnya kemudian berpura-pura selalu positif dan happy.

As we know, dalam kehidupan ini tidak semua hal berjalan dengan indah dan baik-baik saja. Nyatanya kita semua pasti pernah merasakan kehidupan yang sulit dan berat. People are dealing with painful, grief, loss and heart wrenching stuff. Maka perasaan sakit, kecewa, khawatir, marah merupakan perasaan yang normal dan sangat wajar kita rasakan dan ekspresikan.

Menurut dr. Jiemi Ardian, jika emosi-emosi negatif terus menerus disangkal dan dipendam agar selalu terlihat positif, lama kelamaan emosi negatif itu akan menumpuk dan dapat memicu terjadinya gangguan psikis maupun fisik seperti stress, panic attack, depresi ataupun psikosomatis.

Penelitian menunjukkan bahwa emotional acceptance is thus a far better strategy than avoidance. Emotional acceptance mengacu pada kemauan dan kemampuan untuk menerima, mengalami dan mengakui emosi-emosi negatif.

Bagaimana caranya agar terhindar dari perilaku toxic positivity? Jika ada orang lain yang sedang menceritakan keluh kesahnya dengarkanlah dengan baik dan bantu mereka menerima apa yang mereka rasa dengan memvalidasi bahwa apa yang mereka rasakan adalah hal yang wajar.

Menurut Debra Kessler, Psy.D. dalam artikelnya yang berjudul “Why It Is So Important For Parents to Validate Their Children”, validasi adalah suatu tindakan dimana kita memberi tau seseorang bahwa apa yang mereka rasakan itu adalah nyata dan dapat dipahami.

Saat perasaan kita tervalidasi oleh orang lain maka kita akan merasa lebih dipahami, didukung dan merasa terbantu untuk lebih bisa menerima perasaan.

Dibandingkan mendengar kalimat “Be positive!” kita akan lebih senang mendengar “It’s pretty normal to have some negativity in this situation.” atau “This is hard. You’ve done hard things before and I believe in you.” kan? Karena kata-kata tersebut membuat kita merasa lebih dimengerti dan menunjukkan empati dari orang lain kepada kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here