Bullying adalah tindakan mengintimidasi, menindas, menyakiti baik secara verbal, fisik serta psikologis. Tindakan tersebut biasanya dilakukan oleh satu atau sekelompok orang yang merasa lebih kuat dibanding korbannya. Bullying bisa terjadi dimana saja dan pada siapa saja. Namun dalam artikel kali ini mari kita fokuskan pada fenomena bullying yang terjadi di sekolah.

Ramainya pemberitaan mengenai tindakan bullying di sekolah juga menyadarkan banyak orangtua bahwa dalam lingkungan pendidikan sekalipun tidak menjamin anak dapat terbebas dari hal yang dapat melukainya secara fisik ataupun mental. Pelaku bullying di sekolah tidak melulu dilakukan oleh teman sebaya atau sekelasnya, yang artinya semua bisa menjadi korban atau pelaku baik siswa, guru atau karyawan sekolah.

Sebagai orangtua, kita perlu mengajarkan berbagai hal yang bisa menjauhkan anak agar tidak menjadi korban atau pelaku bullying.

Hal-hal tersebut antara lain:

  • Berikan edukasi pada anak tentang bullying, bahwa perilaku tersebut adalah hal yang tidak dapat diterima, merusak, menciptakan suasana tidak nyaman, namun dapat dicegah. Sampaikan hal tersebut dengan konsep yang dapat ia pahami sesuai usianya. Memberikan edukasi tentang bullying pada anak sekaligus mengkonfirmasi apakah anak kita pernah mengalami, menyaksikan atau bahkan menjadi pelaku bullying.
  • Latih anak agar menjadi lebih percaya diri. Membangun kepercayaan diri pada anak sangat penting, karena pelaku bullying biasanya menghindari orang yang terlihat pe-de dan memiliki mental yang baik. Munculnya percaya diri pada anak dapat dimulai dengan kebiasaan sehari-hari, sebagai contoh : orangtua membiarkan anak melakukan hal-hal secara mandiri, memberikan kepercayaan pada anak, menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri, memotivasi dan memberi semangat. Jika anak sudah terlihat pe-de, ajarkan ia agar tidak menjadi agresif dan tidak memunculkan emosi negatifnya untuk menghindari anak menjadi pelaku bullying.
  • Target para pelaku bullying adalah anak yang pendiam, penyendiri dan tidak punya teman. Maka, ajarkan anak agar mampu bersosialisasi, menjalin persahabatan atau bahkan membuat kelompok pertemanan untuk mencegah menjadi target pelaku bullying. Namun anak yang terlalu dominan juga berpotensi menjadi pelaku, kontrol dari orang dewasa baik itu guru atau orangtua memiliki peranan penting.
  • Sebetulnya pelaku bullying sangat menikmati respon dari korban, entah ia marah, takut atau menangis. Ajarkan anak mengatur emosinya seperti tetap terlihat tenang walau sedang ketakutan, berani menatap mata lawan bicaranya, tidak mudah marah saat orang lain berusaha memancing emosinya, dll. Hal tersebut perlu diajarkan untuk menghindari perkelahian dan memunculkan keadaan yang lebih buruk.
  • Pelaku dan korban bullying seringkali memiliki masalah dalam dirinya sendiri. Untuk mengetahui apakah anak kita bermasalah dengan dirinya, coba untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan anak agar ia merasa punya tempat untuk menyampaikan segala masalah yang dialami, sehingga orangtua bisa membantu menyelesaikan masalah agar tidak berlarut-larut dan mempengaruhi psikologisnya.

Saya menyampaikan hal-hal di atas karena saya sendiri pernah menjadi pelaku bullying sejak sekolah dasar. Betapa saya menikmati emosi yang dimunculkan anak-anak lain yang menurut saya lemah, proses dari menolak hingga terus mengikuti apa yang saya katakan walaupun dengan sangat terpaksa.

“Children are great imitators. So give them something great to imitate”

Dear parents, selamat mengkonfirmasi hal-hal di atas dengan keadaan anak Anda sekarang. Jangan lupa bahwa anak membutuhkan contoh yang baik bukan hanya nasihat-nasihat yang biasa mereka dengarkan. Thankyou.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here