“Harta yang paling berharga adalah keluarga”. Kutipan berikut adalah potongan lirik lagu tema sebuah sinetron era 90-an yang sangat populer saat itu bahkan sampai sekarang. Karena keluarga merupakan pilar utama dan terdepan dalam setiap pembentukan karakter manusia, terutama seorang anak. Seseorang tentu tidak akan serta merta dapat bersosialisasi dengan lingkungannya tanpa didikan keluarga. Begitupun sikap yang ditunjukkan dalam proses sosialisasi tersebut, tidak terlepas dari peran keluarga. Setiap orang tentu mendambakan keluarga yang utuh, harmonis dan bahagia dalam keadaan apapun. Karena sejatinya keluarga adalah tempat terbaik untuk “pulang” bagi setiap orang, sejauh apapun kaki Anda melangkah, seberat apapun permasalahan yang Anda alami di luar rumah, tempat terbaik untuk kembali (seharusnya) tetaplah keluarga.– Broken Home.

Menurut Duvall dan Logan, keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga.

Bagaimana ketika keadaan keluarga yang Anda miliki berlawanan dari apa yang Anda dambakan tersebut?. Broken home adalah istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan sebuah keluarga yang tidak harmonis, sering terjadi keributan yang menyebabkan pertengkaran bahkan berakhir dengan perpisahan. Sebuah keluarga juga bisa dikatakan broken home ketika orang tua tidak bercerai tetapi keluarga tersebut tidak lagi utuh. Misalnya karena orangtua yang sering tidak di rumah, orangtua yang sudah tidak peduli lagi dengan keadaan “rumah” dan tidak ada lagi perhatian untuk anak-anaknya.

Kondisi diatas tentu akan menimbulkan dampak yang serius terutama untuk anak-anak. Anak akan kehilangan pegangan dalam masa tumbuh kembang dan masa transisi menuju kedewasaannya. Hal ini juga akan berdampak pada kesehatan psikologis dan kemampuan anak mengatur emosinya. Dalam tulisan ini saya ingin membagikan beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab dan akibat terjadinya keluarga broken home.

Penyebab terjadinya broken home

Inti dari semua penyebab terjadinya broken home adalah kondisi dimana suatu keluarga sudah tidak lagi memberikan rasa nyaman bari para anggotanya terutama anak. Ketidaknyamanan ini seringkali berasal dari ketidakmampuan orang dewasa (orangtua) dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

  • Pertengkaran. Setiap keluarga pasti memiliki permasalahan. Yang membedakan adalah sikap orang dewasa dalam keluarga tersebut ketika menyelesaikannya tanpa menimbulkan dampak negatif bagi anggota keluarga lain terutama anak-anak. Seringkali orang dewasa (orangtua) bersikap egois setiap kali menghadapi permasalahan, alih-alih membicarakannya secara baik-baik malah meributkannya bahkan bertengkar dihadapan anak. Apabila hal ini terus dilakukan berulangkali, tentu akan membuat memori yang tidak baik untuk anak, dan lagi anak tidak akan merasa nyaman berada diantara kedua orangtuanya.
  • Orangtua “Antara ada dan tiada”. Keadaan seperti ini juga berdampak buruk untuk suatu keluarga. Tidak terjadi perceraian, kedua orangtua lengkap, tinggal bersama dan selalu ada, namun raga mereka hadir tapi jiwa dan hati mereka tidak. Kondisi seperti ini jauh dari kriteria keluarga harmonis yang seharusnya penuh kehangatan, ada canda tawa dan penuh perhatian. Selain itu tentu tidak akan memberikan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga yang ada di dalamnya.
  • Orangtua sibuk. Dengan alasan bekerja banyak orangtua yang justru mengabaikan tugas utama mereka sebagai pendamping anak dan mendelegasikan tugas tersebut kepada nenek/kakek atau pengasuh. Bagaimanapun kasih sayang ayah dan ibu tidak akan bisa digantikan oleh kasih sayang nenek/kakek atau pengasuh. Cobalah untuk membagi tugas sesuai tanggungjawab masing-masing. Ketika terpaksa harus bekerja pun, tetap prioritaskan keluarga (anak) jangan sampai kekurangan perhatian dan kasih sayang.
  • Perceraian. Hal paling fatal yang menjadi penyebab terjadinya broken home. Tidak ada yang menginginkan sebuah perceraian, namun ketika hal ini sudah terjadi tentu yang akan menanggung dampak terberatnya adalah anak. Dan akan menjadi lebih parah lagi ketika anak harus memilih untuk tinggal bersama ibu, ayah atau malah dititipkan kepada kerabat terdekat misalnya kakek dan nenek.

Akibat broken home

Ada sebab tentu akan ada akibat. Lalu apa akibatnya ketika sebuah keluarga sudah menjadi broken home, terutama bagi anak-anak?

  • Sulit bergaul dan menutup diri. Kebanyakan anak dari keluarga broken home cenderung bersikap pendiam dan tertutup. Hal ini berdampak pada kesulitan mereka untuk membuat suatu pertemanan. Sebab anak dari keluarga broken home memiliki ketakutan berlebih akan menerima ejekan dari orang lain karena kondisi keluarganya. Dengan demikian mereka akan lebih memilih untuk menutup diri dan tidak bergaul daripada harus lebih sakit ketika menerima bully-an dari sekitar.
  • Menyalahkan orangtua dan diri sendiri. Karena anak dari keluarga broken home memiliki memori yang buruk tentang kondisi keluarganya, maka mereka cenderung akan menyalahkan orangtuanya atas apa yang sudah terjadi. Bahkan tidak jarang mereka juga menyalahkan diri sendiri sebagai akibat dari seringnya menyaksikan pertengkaran antara kedua orangtuanya. Yang akan terjadi selanjutnya adalah mereka akan merasa diabaikan dan merasa tidak disayangi.
  • Mudah menyerap pengaruh buruk dari lingkungan. Ketika kenyamanan tidak mereka dapatkan dari keluarga dirumah, tentu anak-anak akan mencarinya diluar. Dalam hal ini yang terdekat yang menjadi tujuan mereka misalnya lingkungan pertemanan. Jika lingkungan pertemanannya buruk maka anak akan sangat mudah terbawa oleh lingkungannya tersebut yang pada akhirnya akan berperilaku menyimpang.
  • Kesulitan mengendalikan emosi dan kasar. Ingatan anak terhadap kekerasan yang Ia saksikan dari pertengkaran orangtuanya secara tidak langsung akan membentuk kepribadian anak menjadi kasar dan keras pula. Sehingga menyebabkan anak akan terbiasa melakukan tindakan-tindakan seperti yang dilihat pada orang tuanya tersebut. Seperti berteriak, bertengkar, emosional, kasar, dan tindakan tidak terpuji lainnya. Sikap-sikap ini lah yang nantinya akan diterapkan dalam lingkungan pertemanannya.

Berikut beberapa sebab dan akibat dari terjadinya keluarga broken home. Semoga dapat meminimalisir terjadinya keluarga broken home dan menambah banyak lagi keluarga harmonis. Karena anak-anak yang hebat lahir dari keluarga yang sehat dan harmonis.

Terimakasih sudah membaca dan semoga bermanfaat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here