Semua manusia yang hidup di bumi ini harus melalui dan menjalani setiap fase dalam kehidupannya. Saat baru dilahirkan kita mengenal dunia diluar rahim Ibu, belajar menangis, tengkurap, lalu merangkak sampai akhirnya bisa berlari. Ketika memasuki usia sekolah kita belajar beradaptasi, berteman, mengenal huruf dan angka sampai akhirnya bisa menulis, membaca dan berhitung. Sekolah pun memiliki tingkatan lagi dari taman kanak-kanak sampai yang lebih kompleks di perguruan tinggi. Semua fase ini harus kita jalani dan lalui tanpa meninggalkan sebuah proses yang dinamakan belajar. — Belajar menjadi orangtua.

Ketika semua fase diatas sudah berhasil kita lalui maka kita akan sampai pada satu fase yang menurut saya paling krusial dalam kehidupan setiap manusia terutama manusia dewasa, yaitu pernikahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa meneruskan keturunan alias memiliki anak adalah salah satu dari sekian banyak tujuan pernikahan. Ketika sudah memiliki anak, maka kita menjadi orangtua. Saat inilah proses belajar terberat dan tidak berujung dimulai, karena ketika menjadi orangtua berarti kita harus siap untuk belajar seumur hidup dan siap menerima “ujian” yang tidak tau kapan datangnya. Learning by doing, karena menjadi orangtua tidak ada manual book-nya. Belajar menjadi orangtua tidak akan berhenti sampai akhir hayat. Setiap orangtua harus terus belajar sambil mendampingi anak-anaknya bertumbuh dan berkembang hingga membentuk keluarga-keluarga kecil.

Anak adalah titipan Tuhan yang tidak setiap orang mendapatkannya. Maka, ketika kita sudah dipercaya menjadi orangtua, tentu kita tidak bisa main-main dalam menjalaninya. Karena menjadi orangtua berarti mengemban tanggung jawab dunia dan akhirat. Menjadi orangtua juga berarti kita sedang berproses dalam “melahirkan” manusia baru yang karakternya di masa depan bergantung dari apa yang kita tanamkan sejak kecil. Ada beberapa nilai positif yang bisa kita praktikkan ketika berproses selama belajar menjadi orangtua, diantaranya:

1. Sabar

Pangkal dari segala proses belajar termasuk belajar menjadi orangtua adalah sabar. Sabar menghadapi segala tingkah anak, sabar menghadapi segala keingintahuan anak, dan sabar dalam segala hal.

2. Kreativitas

Menjadi orangtua seringkali menuntut kita untuk menggali kreativitas kita. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa anak-anak memiliki imajinasi yang tinggi dan terkadang banyak permintaan anak yang diluar akal orangtua. Misalnya ingin berubah menjadi superhero idolanya, sebagai orangtua kita harus kreativ memanfaatkan barang-barang tidak terpakai yang ada dirumah untuk disulap menjadi kostum superhero permintaan anak.

3. Jujur

Kita ingin anak bersikap jujur tetapi seringkali tanpa terasa justru kita yang mengajarkan anak untuk tidak jujur. Misalnya, ketika kita hendak pergi ke suatu tempat dan tidak ingin mengajak anak, kita sering berbohong dengan mengatakan kita tidak akan pergi kemana-mana padahal ketika anak lengah kita akan pergi diam-diam. Hal ini tampak sederhana tetapi berakibat anak merasa dibohongi dan anak akan menirunya kelak.

4. Menghindari Mengeluarkan Perkataan Negatif

Terkadang tingkah anak memang menjengkelkan, contoh kecil seperti tidak mau diam dan lari-larian di dalam rumah sampai naik ke atas sofa dan sebagainya. Kebanyakan orangtua merasa kesal dan habis kesabaran sehingga keluar kata-kata yang tidak sepantasnya seperti “anak nakal!”. Tanpa kita sadari, semua perkataan yang keluar dari mulut kita sebagai orangtua akan tersimpan rapi di dalam memori anak-anak. Dan fatalnya akan mensugesti anak sehingga bukan tidak mungkin anak akan sering berpikiran seperti misalnya “kata mama juga aku anak nakal, jadi¬† biarin aja lari-lari juga ga usah denger mama“.

5. Tidak Membandingkan

Jangan pernah membandingkan anak dengan anak lain apalagi dengan saudara kandungnya. Hal ini sering terjadi tanpa disadari oleh para orangtua. Dengan membandingkan anak artinya kita tidak menerima anak kita apa adanya. Pun akan akan merasa tidak dihargai oleh orangtuanya dan hal ini akan berakibat fatal dalam proses pembentukan karakternya.