Apakah Anda termasuk orang yang selalu memaklumi anak ketika anak berbuat kesalahan dengan beranggapan “ah, namanya juga anak-anak, maklumi saja” ? Kalau ya, ada baiknya anda mengubah pola pikir seperti itu dan mengubahnya menjadi “Prepare your kids for the world, not the world for your kids” mulai sekarang sambil menyimak cerita saya berikut ini.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya, anak laki-lakinya (sebut saja Boy) yang berusia sekitar 5 tahun mengompol dirumah temannya. Suatu hari sepulang bermain dari rumah temannya, Boy langsung ke kamar mandi dan terdiam cukup lama disana. Setelah teman saya menyadari kondisi anaknya saat itu, Ia menghampiri dan bertanya kepada Boy “kamu kenapa lama-lama disini?”, tetapi Boy tetap tidak mengatakan apapun. Kemudian teman saya meraba celana yang dikenakan Boy, dan ternyata basah. Setelah itu barulah Boy bercerita kalau Ia habis mengompol dirumah temannya.

Lalu apa yang dilakukan teman saya kemudian? Memarahi Boy? Atau membiarkannya dan malah beranggapan “ah, namanya juga anak-anak, maklumi saja”?. Yang petama teman saya lakukan tentu membersihkan tubuh Boy, memandikan dan menggantikan pakaiannya, tanpa membahas apa-apa terlebih dahulu. Setelah Boy terlihat sedikit tenang, barulah Ia bertanya dan mendengarkan Boy memaparkan penjelasan atas kejadian tadi. Setelah Boy selesai menjelaskan dan Ia memberi nasihat kepada Boy agar tidak mengulanginya lagi, kemudian Ia mengajak Boy mendatangi rumah temannya tadi untuk meminta maaf atas kejadian tersebut, setelah itu masalah pun selesai. Boy belajar bertanggung jawab atas perbuatannya dan Ia tidak terbebani dengan menyembunyikan permasalahan dari orangtuanya.

Apa yang akan terjadi jika seandainya Boy dimarahi tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan dan apa pula yang akan terjadi jika Boy dibiarkan tanpa diajak meminta maaf dan meluruskan permasalahannya?

Jika Boy dimarahi tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan

Memarahi anak tanpa tau duduk perkaranya selain akan merusak sel-sel otak anak, juga hanya akan menjadikan anak apatis, tertutup, keras kepala, suka menentang, suka berbohong, meninggalkan trauma pada anak, bahkan bisa menurunkan kepercayaan diri mereka. Hal ini tentu akan berdampak pada kepribadian anak di masa depan.

Sebaliknya, ketika anak diberi kesempatan untuk menjelaskan duduk perkaranya, Ia akan merasa dihargai, sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang terbuka terutama kepada orangtuanya dan percaya diri.

Jika Boy dibiarkan tanpa diajak untuk meminta maaf

Walaupun apa yang dilakukan Boy dengan mengompol dirumah temannya bukan suatu kesengajaan, tetapi beranggapan “ah, namanya juga anak-anak, maklumi saja” atas kejadian tersebut tidaklah benar. Anggapan seperti itu tidak akan membuat anak belajar bertanggung jawab dan membiarkan anak tetap berada di dalam zona nyamannya. Walaupun tidak mudah, tetapi membiasakan hal ini kepada anak sejak kecil sudah menjadi tugas kita sebagai orangtua. Ketika anak sudah diajarkan dan dibiasakan seperti ini sejak kecil, sampai besar kebiasaan ini akan terbawa sehingga anak akan siap menghadapi situasi apapun di masa depan. Karena kelak tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan kehendaknya. Ada kalanya anak akan melakukan kesalahan dan bagaimana anak akan tetap bertahan sekalipun berada diluar zona nyamannya.

Contoh diatas hanyalah satu dari sekian banyak cara untuk Prepare Your Kids for The World, Not The World for Your Kids, semoga ada manfaat yang bisa diambil dari cerita diatas dan terimakasih sudah membaca 🙂