Saya teringat tentang sebuah respon Oprah Winfrey kepada salah seorang penontonnya yang kala itu mengungkapkan bahwa ia ingin menjadi “The Next Oprah”, Oprah malah merespon dengan kata “No, you don’t!”. Oprah menjelaskan bahwa setiap orang perlu mengidentifikasi terlebih dulu di jalur mana ia seharusnya berada dan tinggal.

Oprah menambahkan, bahwa orang yang sukses adalah orang yang berhasil mengidentifikasi tujuan hidup mereka dan tanpa henti berusaha mengikuti tujuan hidup mereka untuk mencapai versi terbaik dari dirinya. Saya setuju terhadap cara pandang Oprah. Anda tidak akan pernah bisa meninggalkan kesan di hati orang lain kecuali jika anda otentik! Menjadi diri sendiri apa adanya, seutuhnya!

Patut disayangkan, seringkali dari kecil kita selalu diajak dan diajarkan menjadi orang lain, mencontoh orang lain, atau bahkan dibandingkan dengan orang lain. Sementara di dalam diri kita terdapat permata yang belum terasah, permata yang tak ternilai harganya dan tidak dapat dibandingkan dengan permata yg dimiliki orang lain.

Tentang menjadi diri sendiri ini sebenarnya sudah sedikit saya singgung di tulisan saya yaitu “6 Cara Menciptakan Nilai Diri yang Tinggi“. Kali ini kita akan kupas sedikit lebih dalam lagi.

Saya pernah menangani seorang client, sebut saja Badru. Badru ini terbilang cukup sulit bergaul dengan orang sedari kecil. Seiring perjalanan hidupnya, tanpa sadar ia menciptakan formula untuk menarik hati teman-temannya. Caranya, setiap ia tertarik untuk berteman dengan seseorang, ia akan menganalisa hal-hal yang kira-kira mereka sukai, bahkan berusaha untuk mengubah dirinya menjadi tipe orang yang mereka sukai.

Seiring berjalannya waktu Badru ini bisa dibilang jadi copycat profesional tanpa ia sadari, ia bisa mengatur dirinya untuk berubah sesuai dengan lawan bicaranya. Namun suatu waktu ia merasa kebingungan, mengapa ketika ia sudah melakukan effort yang besar seperti ini teman-temannya malah menjauh? Mengapa orang-orang yang ia hargai justru jarang bertemu?

Sampai sini mungkin sudah ada yang merasa punya pengalaman mirip dengan Badru? Nah, sudah mulai mesam-mesem kan? 😉

Apa yang terjadi pada Badru sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita. Bagaimana seseorang bisa attach dengan kita? Bagaimana orang lain bisa menghargai kita? Sementara diri kita sendiri masih belum menghargai dirinya sendiri dan masih susah payah untuk menjadi orang yang-saya-pikir mereka akan sukai. Ngoyo dalam kepalsuan!

Dalam contoh kasus tadi, Badru terbiasa menjadi orang lain sedari kecil, dan itu selalu berhasil. Tapi, ia tak pernah tahu apakah orang bisa menyukainya apa adanya, karena bahkan ia tak pernah mencoba. Karena ketika ada sedikit niat untuk mencoba kepala nya penuh asumsi, asumsi, dan asumsi, yang menyebabkan ia khawatir ditolak, ia takut tidak bisa diterima oleh teman-temannya, atau bahkan takut temannya tidak mau main lagi dengannya.

Di kesempatan tertentu bahkan kita perlu menunjukan sisi vurnerable (rapuh). Senang bilang senang, sakit bilang sakit, kuat tunjukan kuat, rapuh tunjukan rapuh. Bukankah itu seninya bahwa setiap manusia diharapkan menjadi manfaat untuk orang lain? Saling melengkapi, apa adanya, bukan ada apanya.

Takut? Coba dulu! Saya pribadi pernah mengalami hal seperti ini juga kok. Tapi lambat laun ketika kita terbiasa, justru langkah kita akan jauh lebih ringan karena kita menjadi diri kita sendiri. Kita terbebas dari memaksakan diri untuk sesuai dengan kehendak orang lain, kita kembali memegang penuh kendali hidup kita.

Jadilah diri Anda apa adanya, siapapun Anda. Ada satu quote menarik yang bunyinya, “A trash for one person, could be a treasure for others.” Yang artinya, ‘Sampah untuk satu orang, bisa jadi harta karun bagi orang lain.’

Tidak ada kata terlambat, yuk mulai belajar menghargai diri dengan berani menjadi diri sendiri apa adanya. 😉