Alkisah ada 2 orang sahabat yang bernama Badru dan Abdul. Malam itu Badru tetiba mendapat sebuah pesan WA dari sahabatnya Abdul yang sudah lama tak jumpa dan tak ada kabarnya.

Dru, apa kabar lo? Akhirnya cita-cita gw kesampean nih, gw lolos beasiswa buat kuliah di luar negeri. Makasih support dan doanya.

Badru termenung, dia punya keinginan yang sama dengan Abdul. Tiga bulan ke belakang, dia bahkan tak yakin bisa lolos beasiswa yang sedang jadi trend dan diimpi-impikan banyak orang tersebut. Alasannya sederhana: saat lihat website penyedia beasiswa tersebut, ia menyadari jika dirinya itu biasa aja, nggak pintar-pintar banget.

Mengetahui kabar dari sahabatnya Abdul yang lolos beasiswa tersebut, tetiba dia merasa yakin. Kenapa tidak? Abdul yang menurutnya bahkan tidak sepintar dia saja bisa lolos, tentu dia pun bisa diterima juga.

Ditutupnya tab browser yang sedari tadi menampilkan Youtube, aktifitas yang jadi favoritnya ketika ia merasa tidak mampu mengejar cita-citanya. Dibukanya web penyedia beasiswa tersebut, lalu diapun mulai menyusun kebutuhan untuk bisa melengkapi form pendaftara beasiswa yang ingin segera dia kirimkan.

Perasaan apakah itu? Mengapa Badru bisa mendadak merasa mampu?

Itulah yang dinamakan Self-Efficacy. Selanjutnya kita akan bahas lebih detail mengenai self-efficacy.

Definisi Self-Efficacy

Berikut saya akan tuliskan definisi self-efficacy menurut para ahli.

  • Bandura (1986) menyatakan bahwa self efficacy mengacu pada kepercayaan individu akan kemampuannya untuk sukses dalam melakukan sesuatu.
  • Self Efficacy menurut Santrock (2007)  adalah kepercayaan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai situasi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan.
  • Niu (2010) menyebut self efficacy adalah hasil interaksi antara lingkungan eksternal, mekanisme penyesuaian diri serta kemampuan personal, pengalaman dan pendidikan.
  • Stipek (2001, dalam Santrock, 2007) menjelaskan bahwa self efficacy adalah kepercayaan seeorang atas kemampuannya sendiri.

Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa pada intinya self-efficacy adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya. Ketika seseorang mempunyai self efficacy tinggi, dia akan tahu bahwa ia bisa dan akan berhasil dalam mengerjakan suatu hal.

Faktor Pembentuk Self Efficacy

Ada 4 faktor yang membentuk self efficacy.

  1. Pengalaman yang Menetap
    Peristiwa di masa lalu yang pernah dialami berperan dalam membentuk self-efficacy seseorang. Misalkan anda dulu pernah deketin cewek nih, nembak eh terus berhasil jadian. Nah, pengalaman ini bikin anda ngerasa percaya kalo anda bisa ngedeketin cewe, kalo anda naksir sama satu cewe anda sanggup deketin dan yakin bakal berhasil. Dalam kejadian ini pengalaman anda membentuk self-efficacy mu dalam hal ngedeketin cewek jadi tinggi.Beda cerita kalo anda ngedeketin cewek tapi gagal melulu. Kejadian ini bisa membuat self-efficacy mu rendah, karena ada perasaan ragu, bahkan ngerasa ga sanggup buat deketin cewek.Selain itu, ketika anda dapat berhasil melakukan sesuatu dengna effort yang minim, self-efficacy anda akan hal yang anda lakukan menjadi tinggi. Contohnya : ketika anda belajar matematika nih, ternyata dengan coba baca sebentar saja anda bisa mengerjakan soal demi soal latihannya. Tentu dengan begitu, kepercayaanmu terhadap kemampuanmu sendiri akan meningkat.
  2. Pengalaman yang Anda Rasakan Sendiri
    Pengalaman yang anda rasakan sendiri ini seperti kisah Badru dan Abdul yang sudah anda baca di awal atau sederhananya seperti ini : anda pernah nggak punya seorang temen yang anda anggap kemampuannya setara denganmu?Kemudian anda melihat dia melakukan suatu hal dan berhasil. Saat itu anda mikir,”lah kalo dia bisa berarti aku harusnya juga bisa dong”.Saat anda berpikir begitu, self efficacy mu terpengaruh. Menjadi lebih yakin bahwa anda juga bisa karena perbandingan yang anda rasakan sendiri dari pengalamanmu.
  3. Pendapat Orang Lain
    Bayangin anda saat ini sudah punya pacar (in case kalo sekarang belum ya haha). Saat anda stuck dalam mengerjakan suatu hal, terus dia senyum ke anda sambil bilang “semangat sayang, kamu pasti bisa kok”, apa perasaanmu? Berasa jadi semangat kan? Kalo udah dibilang “pasti bisa” gitu, rasanya anda jadi yakin kalo pasti bisa .Ini tandanya pendapat orang lain dapat mempengaruhi self efficacy.
    Tapi hati-hati secara umum, menurunkan self efficacy dengan pendapat lebih gampang dibanding meningkatkannya lho.
  4. Keadaan Psikologis
    Kalo lagi bete, lagi suntuk, lagi sedih, rasanya jadi males ngapa-ngapain. Nulis skripsi juga emoh banget.Kalo hati lagi berbunga-bunga, lagi hepi… hmmmm rasanya bisa deh bikin skripsi dua jilid dari abis maghrib sampe sebelum imsak.Begitulah, kondisi psikologis bisa mempengaruhi self efficacy anda.

Benefit Self-Efficacy yang Tinggi

Seseorang dengan self-efficacy tinggi akan tahu sejauh mana kemampuannya dan kekurangannya dalam mengerjakan suatu tugas. Sehingga bisa dilihat bahwa seseorang dengan self-efficacy yang tinggi tidak cuma pede saja, dia juga mawas diri. Dia merencanakan suatu tindakan untuk menutupi kekurangannya dan menempatkan effortnya di tempat yang pas, sehingga proses mencapai goals-nya bisa ia lakukan dengan efektif dan juga efisien.

Self efficacy ini penting banget dimiliki, karena ia berkaitan dengan ketekunan dan pengembangan diri. Orang dengan self efficacy tinggi bisa menilai dan memberi evaluasi pada dirinya sendiri. Hal ini akan mudah dia lakukan, karena dia memang merasa sanggup.

Ternyata penting banget ya Self-Efficacy itu. Nah, sekarang giliran saya bertanya.Bagaimana self-efficacy mu? Tinggi? Rendah? atau Biasa aja?  🙂

Di tulisan selanjutnya saya akan coba bahas cara bagaimana membangun dan meningkatkan self-efficacy agar perjalanan hidup kita bisa kembali menyenangkan. Jika anda punya pertanyaan silahkan tulis di kolom komentar ya. 😎