“Pantas saja diperlakukan seperti itu, toh pakaiannya minim begitu.”

“Wajar sih jika dia dijambret, perhiasan yang dipakainya berlebihan.”

“Lagian ngapain jalan sendiri malam-malam, tidak heran jika ada yang mencopet.”

Pernah mendengar kata-kata semacam itu saat mengetahui seseorang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan? Atau malah sering? Atau mungkin secara tidak sadar Anda juga berbuat hal demikian?

Kata-kata seperti contoh di atas biasa disebut dengan victim blaming.

Suatu kondisi dimana korban disalahkan dan dituduh merupakan sumber penyebab atas tindakan kejahatan yang dialaminya sendiri.

Miris memang bila mendengar ada yang berbicara seperti itu disaat orang lain tertimpa sesuatu hal yang buruk. Namun kenyataannya di masyarakat memang ada orang-orang yang memaklumi tindakan pelaku dan menyalahkan korban (victim blaming). Dan tindakan victim blaming kebanyakan terjadi pada kasus pelecehan seksual.

Menurut psikolog dari University of Massachussets, Ronnie Janoff-Bulman, kebanyakan dari kita percaya bahwa dunia pada dasarnya baik, dia menyebutnya dengan ‘positive assumptive worldview’. Hal-hal baik terjadi pada orang baik, dan sebaliknya. Maka jika ada hal buruk terjadi pada seseorang, kita akan menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah yang dilakukan oleh orang tersebut. Dengan kata lain orang tersebut pantas menerima hal buruk itu dan ia bertanggungjawab atas kejadian tersebut. Padahal nyatanya, hidup tidak selalu adil. Kadang-kadang hal yang buruk terjadi pada orang baik.

Laura Niemi dari Harvard University dan Liane Young dari Boston College melakukan penelitian yang membahas mengenai fenomena victim blaming dan mempublikasikannya di Personality and Social Psychology Bulletin. Penelitian tersebut melibatkan 994 peserta. Hasil dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa nilai-nilai moral mempunyai peran penting dalam menentukan cara pandang seseorang dalam melihat korban dalam sebuah peristiwa.

Niemi dan Young mengidentifikasikan nilai moral menjadi dua bagian, yaitu nilai-nilai yang mengikat dan nilai-nilai individualisasi. Pada dasarnya di dalam diri setiap orang terdapat perpaduan dari kedua nilai tersebut. Namun ada nilai yang cenderung lebih kuat dalam diri masing-masing orang.

Pada orang-orang yang memiliki kecenderungan lebih kuat pada nilai-nilai yang mengikat, mereka lebih mungkin untuk melihat korban sebagai penyebab terjadinya kejadian buruk yang menimpa mereka. Imbasnya biasanya mereka cenderung menyalahkan korban (victim blaming).

Sedangkan bagi mereka yang nilai moralnya berdasarkan nilai-nilai individualisasi, mereka akan menyalahkan pelaku dan bersimpati pada korban.

Pada intinya, victim blaming bisa disebabkan dari kombinasi kegagalan dalam berempati pada korban dan reaksi ketakutan yang dipicu oleh dorongan untuk mempertahankan diri.

Lalu adakah cara yang bisa kita lakukan agar kita tidak menyalahkan korban suatu peristiwa buruk? Tentu saja ada dan caranya sangat sederhana. Kita hanya perlu berempati. Cobalah untuk membayangkan bagaimana perasaan kita jika kita mengalami kejadian buruk yang menimpa orang lain. Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang ingin menjadi korban dari peristiwa buruk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here