Stephen R. Covey, penulis buku “The Seven Habits of Highly Effective People” mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak mendengarkan dengan tujuan untuk memahami, mereka mendengarkan dengan intensi membalas ucapan si lawan bicara.

Dewasa ini banyak kejadian yang membuat saya benar-benar menyetujui apa yang diucapkan oleh Covey tersebut. Saat ini di dalam komunikasi, banyak orang yang lebih memilih untuk dipahami tanpa ada keinginan untuk memahami.

Di beberapa acara talkshow yang disiarkan di televisi, Anda mungkin sering menjumpai adanya pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh suatu kelompok untuk menumbangkan kelompok oposisinya. Terkadang mereka menutup mata terhadap data-data dan fakta-fakta yang ada hanya karena orang/ kelompok yang memaparkan hal tersebut tidak sepaham dengannya. Mereka hanya terlihat seperti mendengarkan argumen yang dipaparkan padahal sebenarnya mereka tidak mendengarkan sama sekali. Alhasil terjadilah adu mulut, debat kusir, aksi saling serang dan saling mempertahankan diri.

Keengganan untuk mendengarkan orang lain dapat terjadi di dalam situasi apapun. Dari lingkup terkecil hingga lingkup yang besar. Di dalam hubungan orangtua dan anak, hubungan romantis, lingkungan kerja, lingkungan pergaulan sampai lingkungan bermasyarakat. Dan disadari atau tidak, rendahnya kemampuan untuk mendengarkan dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya konflik.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan keengganan untuk mendengarkan orang lain, yaitu:

Merasa benar

Hal yang menjadi alasan utama mengapa kita tidak mau mendengar orang lain adalah merasa diri benar. Kita meyakini bahwa pendapat/ argumen kita benar sedangkan orang lain salah. Kita akan berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa apa yang kita yakini benar. Hal tersebut dapat membuat kita menutup telinga untuk mendengarkan kebenaran yang disampaikan orang lain.

Takut dikritik

Begitu takutnya kita terhadap kritikan menyebabkan kita tidak mau mendengarkan orang lain. Kita akan lebih memilih untuk membela diri daripada mendengarkan hal negatif yang tidak dapat kita terima.

Ketidakpercayaan

Ketidakpercayaan terhadap orang lain dapat menyebabkan kita enggan mendengarkan. Kita akan beranggapan bahwa orang lain akan memanipulasi kita jika kita mendengarkannya. Bisa juga kita tidak mendengarkan orang lain karena kita tidak percaya dengan kredibilitasnya.

Ketergantungan membantu

Ada beberapa orang yang kemampuan mendengarkannya minim justru disebabkan oleh keyakinan bahwa mereka harus membantu orang lain yang curhat pada mereka. Namun bukannya berusaha untuk mendengarkan orang lain dengan baik, mereka malah terus berbicara dan sibuk mencari solusi seolah-olah hal tersebut yang paling dibutuhkan orang lain.

Setelah mengetahui beberapa alasan mengapa kita tidak dapat mendengarkan orang lain dengan baik, kita dapat belajar untuk meningkatkan keterampilan menyimak kita. Karena percaya atau tidak, mendengarkan merupakan keterampilan yang bisa dipelajari seperti menulis, membaca, dan lain-lain. Untuk mengasah keterampilan mendengarkan diperlukan kesabaran dan latihan.

Berikut saya sebutkan beberapa hal yang dapat meningkatkan keterampilan kita untuk menjadi pendengar yang baik:

Jangan memonopoli percakapan

Pendengar yang baik akan menghindari diri mereka dari mendominasi suatu percakapan. Mereka tidak akan menunjukkan atau merasa paling tau tentang suatu subjek yang sedang dibicarakan. Mereka terbuka terhadap ide-ide baru. Mereka akan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapatnya. Selain itu, pendengar yang baik juga menciptakan suatu percakapan yang dapat saling berbagi ide dan menemukan solusi bersama.

Jangan pura-pura mendengarkan

Saat lawan bicara kita membicarakan hal yang membosankan, biasanya kita pura-pura mendengarkan. Sebagai pendengar yang baik, kita harus berusaha untuk tetap memberikan perhatian terhadap apa yang sedang dibicarakan. Tetaplah pertahankan kontak mata. Berilah isyarat sederhana seperti anggukan kepala atau komentar yang menyatakan bahwa kita menyimak pembicaraannya.

Jangan menginterupsi

Biarkan lawan bicara kita berbicara tanpa ada gangguan. Biarkan mereka mengatakan semua hal yang perlu mereka katakan. Karena seringkali seseorang hanya membutuhkan orang lain untuk mendengar bukan untuk memberikan saran atau pendapat.

Jadilah pendengar yang aktif

Menjadi pendengar yang baik bukan berarti kita harus diam selama percakapan terjadi. Kita juga harus menjadi pendengar yang aktif dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan untuk mengklarifikasi atau meminta penjelasan lebih lanjut. Dengan demikian kita bisa memahami apa yang disampaikan orang lain pada kita.

Tunjukkan bahwa kita mengerti

Tunjukkanlah bahwa kita mengerti dan memahami apa yang orang lain katakan. Kita dapat menunjukkannya dengan cara mengangguk atau memberi komentar-komentar yang menunjukkan minat dan pemahaman kita terhadap apa yang dibicarakan.

Amati orang lain

Jika kita benar-benar mempunyai keinginan untuk menjadi pendengar yang baik, kita bisa mempelajarinya dengan cara mengamati orang saat berinteraksi dengan orang lain. Amati semua hal, dari yang baik sampai yang buruk. Lalu cobalah introspeksi diri kita. Apakah kita cenderung melakukan hal yang baik atau yang buruk saat berinteraksi dengan orang lain.

Mempunyai keterampilan mendengarkan dengan baik, tidak hanya membantu kita untuk berkomunikasi lebih baik. Dengan menjadi pendengar yang baik dapat membuat kita memiliki empati yang tinggi dari kebanyakan orang, bisa memutuskan sesuatu dengan mempertimbangkan sudut pandang orang lain, lebih cerdas secara emosional, disukai banyak orang. Selain itu, kita juga jadi tidak mudah membenci sesuatu yang tidak kita mengerti.

Nah, jadi selama ini Anda mendengar untuk menjawab atau mendengar untuk memahami?