Beberapa hari yang lalu saya menonton mini series yang berjudul “Mengakhiri Cinta dalam Tiga Episode”. Inti cerita dari series tersebut adalah tentang gagal nikah. Setelah delapan tahun pacaran dan berencana untuk menikah, tiba-tiba si laki-laki ingin mengakhiri hubungannya dengan alasan tidak pernah cinta.

Setelah menonton series tersebut, saya teringat salah satu teman yang pernah mengalami gagal nikah beberapa tahun yang lalu. Dia memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahannya satu bulan sebelum hari H. Padahal rencana pernikahannya sudah 90 persen dilakukan. Gedung dan katering sudah dipesan, baju pengantin sudah siap, undangan pun sudah dicetak dan tinggal disebar. Bukan jodoh menjadi jawaban andalannya ketika ada orang yang bertanya kenapa gagal nikah.

Sebenarnya fenomena gagal nikah bukan hal yang baru di masyarakat. Namun karena pengaruh media sosial saat ini, hal yang dulunya ditutup-tutupi dan dianggap sebagai aib berubah menjadi konsumsi publik. Tak hanya dari kalangan selebritas, berita tentang gagal nikah orang biasa pun bisa menjadi viral. Banyaknya berita yang terekspos mengenai gagal nikah membuat banyak orang bertanya, sebenarnya apa sih penyebab dari gagal nikah.

Banyak hal yang bisa menjadi pemicu terjadinya gagal nikah. Mulai dari hal yang sepele hingga hal yang sangat prinsipil. Beberapa alasan penyebab gagal nikah antara lain:
Keraguan pada pasangan

Saat mempersiapkan pernikahan, calon pengantin dihadapkan pada kondisi yang penuh tekanan yang bisa membuat mereka stres. Pada keadaan penuh tekanan tersebut, watak asli seseorang dapat muncul. Munculnya karakter asli dari pasangan yang tidak berkenan bagi kita membuat kita ragu untuk melanjutkan pernikahan. Kita merasa bahwa pasangan kita bukanlah orang yang tepat untuk dijadikan partner hidup bersama.

Maka sangat penting untuk mengetahui karakter pasangan kita dengan baik sebelum memutuskan untuk menikah. Kenalilah sifat, karakter, kepribadian hingga kebiasaan buruk pasangan kita. Agar jika suatu saat sifat buruknya muncul, kita tidak akan kaget dan sudah bisa menerimanya.

Jika sebelum menikah kita menyadari adanya sifat yang tidak bisa diterima dan akan sulit diubah maka lebih baik untuk mengakhiri hubungan. Kita tidak ingin mempunyai rumah tangga seperti Dita di artikel saya yang berjudul ‘Menikahi orang yang salah?’ kan?

Belum siap mental

Ada berbagai alasan mengapa seseorang memutuskan untuk menikah. Waktu pacaran yang sudah lama, tekanan dari keluarga, faktor usia, sosial, ekonomi dan lain-lain. Walaupun sebenarnya kesiapan mental dari dalam diri belum ada. Namun tidak ada keberanian untuk mengungkapkannya di awal.

Saat mendekati hari H, ketakutan untuk menghadapi kehidupan pernikahan yang jauh berbeda dengan kehidupan saat ini pun semakin kuat. Hal ini lah yang bisa menyebabkan pembatalan pernikahan.

Keluarga

Pernikahan bukan hanya untuk menyatukan dua individu tapi juga dua keluarga besar. Maka bukan hal yang tidak mungkin jika kendala datang dari pihak keluarga. Kendala tersebut bisa jadi berupa terhalangnya restu dari orang tua, perbedaan pendapat, perbedaan adat istiadat dan budaya yang sulit disatukan.

Maka sebelum menikah, sebaiknya dilakukan pendekatan dengan pihak keluarga agar kita bisa mengetahui tentang kecocokan dan ketidakcocokan dengan mereka. Jika kita mengetahui seberapa besar kecocokan ataupun ketidakcocokan dengan keluarga pasangan, kita bisa dengan mudah menentukan untuk melanjutkan hubungan atau tidak.

Status sosial

Bagi beberapa orang, kesetaraan status sosial merupakan hal yang penting dalam memilih pasangan hidup. Gap yang terlalu jauh akan memberikan dampak yang kurang baik bagi kehidupan pernikahan. Masih seperti di tulisan saya yang berjudul ‘Menikahi orang yang salah?’, perbedaan status sosial bisa menyebabkan salah satu pihak merasa tidak dihargai.

Hadirnya orang ketiga

Ingat cerita tentang Rahmi dan Raka yang gagal menikah karena kehadiran Nimo di Cintapuccino? Atau kegagalan rencana pernikahannya Cinta dan Trian karena Rangga di AADC 2? Dan ingatkah batalnya pernikahan Allie dan Lon karena Noah di The Notebook?

Semua penyebab gagalnya pernikahan dari orang-orang yang saya sebutkan di atas adalah karena kehadiran orang ketiga. Mungkin Anda akan berkata bahwa contoh yang saya sebutkan hanya cerita di sebuah film. Tapi saya berani bilang bahwa di kehidupan nyata cerita tersebut benar-benar ada.

Adanya orang ketiga bisa menjadi faktor utama yang membuat kandasnya suatu hubungan. Entah kembali menjalin hubungan dengan mantan atau bertemu dengan orang baru, perselingkuhan tetap merupakan suatu kesalahan yang tidak termaafkan bagi sebagian orang. Alasan bahwa orang ketiga lebih baik daripada pasangan pun terkadang menjadi pembenaran.

Jika tanda-tanda perselingkuhan dapat kita lihat sebelum menikah, lebih baik pikirkan kembali untuk meneruskan pernikahan. Karena tidak menutup kemungkinan jika hal tersebut dapat terulang setelah menikah.

Setelah mengetahui apa saja yang bisa menyebabkan gagalnya pernikahan, kita diharapkan untuk bisa mengantisipasinya. Nah bagaimana jika kita terlanjur mengalami hal tersebut? Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menata ulang hidup setelah gagal nikah:
Menerima kenyataan

Perasaan sedih, terpuruk, trauma hingga depresi sangat wajar dirasakan ketika kita mengalami batal menikah. Namun jika kita terus menerus terpuruk, hal tersebut akan sangat merugikan kita. Terimalah kenyataan bahwa rencana pernikahan dan hubungan Anda sudah berakhir. Rencanakan lah masa depan yang baru dan jadikan kejadian tersebut sebagai pelajaran yang membuat kita lebih kuat.

Cari tau penyebab kegagalan

Kita pasti tidak ingin mengalami kegagalan untuk kedua kalinya kan? Maka dari itu, penting untuk mengetahui apa penyebab gagalnya rencana pernikahan Anda. Apakah penyebabnya berasal dari diri kita, pasangan kita atau pihak luar. Setelah mengetahui penyebabnya, kita dapat belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Bersosialisasi

Mungkin kita akan menerima berbagai komentar dari orang lain mengenai batalnya pernikahan yang membuat kita merasa malu. Namun jangan jadikan hal tersebut sebagai alasan untuk kita menutup diri dari pergaulan. Tetaplah bersosialisasi, bersenang-senanglah bersama teman-teman. Dapatkan energi positif dari orang-orang yang Anda temui.

Sibukkan diri

Tidak ada gunanya terus menerus mengingat kegagalan Anda. Sibukkan lah diri dengan melakukan hobi yang menyenangkan dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Karena dengan melakukan kegiatan yang positif dan menyenangkan bisa membuat bahagia dan mengobati luka pasca batal menikah.

Cobalah membuka hati

Membuka hati bukan berarti langsung menjalin hubungan dengan orang baru. Membuka hati bisa diawali dengan bersikap terbuka untuk mengenal orang baru, setidaknya untuk menambah teman. Tidak bersikap skeptis pada orang lain. Ingatlah bahwa tidak semua orang memiliki karakter yang sama. Dengan membuka hati, rasa sakit yang kita rasakan perlahan bisa pergi. Dan percayalah akan ada saatnya hati kita diisi oleh orang yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Sekian pemaparan mengenai penyebab dan bagaimana cara move on setelah gagal menikah. Jika diantara Anda ada yang mengalaminya, semoga artikel ini dapat bermanfaat ya.