Dalam menjalin hubungan dengan orang lain, tentunya kita menginginkan hubungan yang sehat. Hubungan apa pun itu. Baik hubungan keluarga, pertemanan, pasangan atau rekan kerja.

Seperti di artikel saya yang berjudul “Memilih Teman”, hubungan yang sehat di dalam pertemanan dapat kita wujudkan salah satunya dengan cara memilih teman yang dapat membantu kita untuk grow up.

Begitu pula saat kita menjalani hubungan dengan pasangan. Pastinya, kita mendambakan hubungan yang sehat. Hubungan yang dapat menguntungkan satu sama lain. Hubungan yang dapat memberi pengaruh positif bagi kita dan pasangan. Hubungan mutualisme.

Namun, bagaimana jika kenyataannya tidak demikian?

Siang tadi, saya ngobrol bersama seorang teman. Dia bercerita tentang hubungannya dengan pasangannya. Dia tampak gembira karena bisa membuat pasangannya berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Lalu saya bertanya, “Apa kamu merasa menjadi orang yang lebih baik juga karena dia?”. Dia tidak langsung merespon dan hanya terdiam cukup lama, kemudian menggeleng.

Dari jawaban yang dia beri, saya menyimpulkan bahwa dia sedang berada di zona abu-abu. Dia berada dalam hubungan yang tampak sehat, bukan hubungan yang benar-benar sehat. Hubungan komensalisme. Dan menurut saya, hubungan ini lebih berbahaya dibandingkan hubungan yang tidak sehat sekalipun.

Loh kenapa?

Ketika kita berada di hubungan yang saling memberi manfaat, yang perlu kita lakukan hanyalah terus menjaga dan merawat hubungan tersebut. Kita hanya perlu untuk terus saling memperbaiki diri dan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri masing-masing.

Sedangkan jika kita berada di dalam hubungan yang merugikan (toxic relationship), hal yang perlu kita lakukan pun sangat jelas. Kita harus mengakhiri hubungan tersebut jika tidak ingin merugi.

Nah, bagaimana jika kita berada dalam hubungan yang hanya menguntungkan satu pihak sedangkan yang lainnya tidak untung, namun tidak juga rugi?

Di hubungan seperti ini, biasanya kita tidak menyadari bahwa kita sedang berada di dalam hubungan yang berbahaya. Hal tersebut karena kita merasa baik-baik saja, tidak dirugikan sama sekali.

Di satu sisi, kita memang memberikan manfaat kepada pasangan. Kita membuat pasangan kita menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Membuat pasangan kita berkembang secara karakter, pemikiran dan emosinya. Kita memberi pengaruh yang baik bagi pasangan.

Namun ternyata pasangan kita tidak memberi dampak positif apapun bagi kita. Keberadaannya tidak memberi pengaruh apapun terhadap perkembangan kita. Kita masih berada di kondisi yang sama.

Rasa senang karena telah merubah pasangan menjadi lebih baik membuat kita lupa bahwa hubungan yang dijalani tidak berjalan dua arah. Tidak ada kata ‘saling’.

Jika saya berada di dalam hubungan seperti itu, saya akan memilih untuk mengakhiri hubungan tersebut. Karena bagi saya, untuk apa menjalani hubungan yang tidak dapat membuat diri kita menjadi individu yang lebih baik.

Jadi, penting sekali mendeteksi dan memahami hubungan seperti apa yang sedang kita jalani. Agar kita dapat membuat keputusan dengan tepat. Anda berpikir demikian juga kan?