Perkembangan zaman menyebabkan banyak perubahan dalam kehidupan. Tidak terkecuali perubahan perilaku masyarakat. Berkembangnya teknologi internet yang menghadirkan berbagai media sosial pun ikut andil di dalamnya. Seperti kita ketahui, saat ini orang-orang lebih berani dan tidak ragu untuk membagikan foto dan menceritakan kehidupan pribadinya di akun media sosial.

Mungkin kita juga sudah tidak asing dengan istilah ‘narsis’. Biasanya kita menggunakan kata ‘narsis’ untuk menyebut orang  yang sangat percaya diri dan bangga pada dirinya sendiri. Contohnya mereka yang doyan mem-posting foto selfie di akunnya. Tapi apakah memang sesederhana itu arti dari kata ‘narsis’? Lalu apa hubungannya dengannya narsistik?

Narsis

Konon, kata narsis berasal dari nama seorang pemuda dalam mitos Yunani yaitu Narcissus. Dia adalah orang yang sangat rupawan. Hal tersebut membuatnya menjadi pribadi yang bangga dan sangat mencintai dirinya sendiri, juga angkuh.

Dalam psikologi, kata narsis dipopulerkan oleh psikolog ternama yaitu Sigmund Freud. Kata narsis digunakan Freud untuk menyebut seseorang yang mencintai dirinya sendiri secara berlebihan dan menganggap dirinya istimewa.

Lalu bagaimana dengan narsistik?

Bisa dibilang bahwa narsistik adalah narsis dengan tingkatan yang lebih tinggi. Narsistik sudah termasuk ke dalam gangguan kepribadian, atau sering disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD). Orang dengan kondisi ini sering digambarkan sebagai orang yang arogan, egois, sombong dan manipulatif.

Untuk lebih jelasnya, berikut saya sebutkan sebagian tanda-tanda orang dengan kepribadian narsistik:

Membutuhkan perhatian yang berlebihan

Orang-orang narsistik membutuhkan perhatian secara terus menerus. Mereka selalu berusaha untuk mendapatkan pujian dan persetujuan dari orang lain untuk menopang ego mereka yang rapuh. Namun seberapa banyak pun perhatian atau pujian yang mereka terima, mereka selalu merasa kurang dan menginginkan lebih banyak.

Perfeksionis

Mereka memiliki kebutuhan untuk menjadi sempurna. Mereka menginginkan diri mereka harus sempurna, orang-orang disekitar harus sempurna, apa yang terjadi harus sesuai dengan apa yang direncanakan dan kehidupan harus sesuai dengan apa yang dibayangkan. Dan hal tersebut tentu saja hal yang tidak mungkin. Oleh karena itu, mereka selalu merasa tidak puas dan sering mengeluh.

Tidak suka dikritik dan suka menyalahkan orang lain

Saat apa yang mereka rencanakan tidak berjalan sesuai dengan kehendak dan kemudian mereka dikritik, mereka akan selalu menyalahkan orang lain. Mereka adalah pribadi yang sangat tidak bisa menerima kritik dari orang lain. Kritik dapat membuat mereka stres, bahkan depresi.

Senang mengendalikan

Karena kebutuhannya untuk menjadi sempurna, para narsistik selalu ingin mengendalikan segala sesuatu agar semuanya berjalan sesuai dengan yang mereka inginkan. Di dalam pikirannya, narsistik mempunyai alur cerita mengenai apa yang harus orang lain katakan dan lakukan. Jika orang lain tidak bertindak sesuai dengan rencananya, maka mereka akan sangat kesal dan tidak tenang. Orang lain adalah karakter dalam alur cerita mereka, bukan orang nyata.

Kurang empati

Mereka kurang bisa berempati pada orang lain. Cenderung egois dan tidak dapat memahami perasaan orang lain. Mereka mengharapkan orang lain berpikir dan merasakan apa yang mereka rasakan, namun jarang memikirkan yang orang lain rasakan. Mereka jarang meminta maaf, merasa bersalah ataupun menyesal.

Merasa istimewa

Mereka senang memamerkan kebesaran dirinya dan menunjukkan seberapa penting mereka. Mereka menganggap bahwa mereka unik dan hebat. Selain itu mereka juga sering berfantasi tentang kesuksesan, kecantikan, kecerdasan dan kehidupan yang ideal. Orang narsistik juga merasa bahwa mereka berhak mendapat perlakuan khusus.

Apa yang menyebabkan seseorang mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD)?

Sebenarnya sampai sekarang penyebab gangguan kepribadian ini belum diketahui. Namun menurut para ahli, salah satu faktor terkuat adalah pola pengasuhan anak. Pola asuh yang terlalu memanjakan, mengekang anak terlalu berlebihan, memuji anak terlalu berlebihan, kekerasan terhadap emosi anak dapat menyebabkan gangguan ini. Selain itu faktor gen, masalah fisik, psikologis dan pengaruh lingkungan pun bisa menjadi penyebabnya.

Bagaimana penanganannya?

Untuk penanganannya, kita bisa melakukan psikoterapi yang dapat dilakukan bersama psikolog atau psikiater. Terapi ini dimaksudkan agar orang dengan NPD bisa memahami perasaan dan perilaku dirinya sendiri dan lebih peka terhadap orang lain.

Selain itu, ada juga terapi perilaku kognitif. Terapi ini bisa membantu untuk mengubah perilaku-perilaku negatif menjadi perilaku yang positif.

Narsis bukan sekedar hobi foto selfie dan membanggakan diri ya, ternyata lebih serius dari itu. Semoga pemaparan kali ini dapat memberikan Anda informasi yang bermanfaat.