Setiap orangtua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Setiap anak ingin membahagiakan orangtuanya. Anda setuju dengan pernyataan tersebut kan? Saya yakin Anda setuju. Idealnya, antara orangtua dan anak mempunyai hubungan yang saling menghormati dan menghargai.

Saling menghormati dan menghargai loh ya. Ada kata ‘saling’ disitu. Kenapa saya tekankan kata ‘saling’ disini? Karena pada kenyataannya yang terjadi di masyarakat adalah anak yang harus menghormati orangtuanya.

Alasannya logis sih, karena orangtua adalah orang yang usianya lebih tua dari anak, yang merawat dan membesarkan anak, yang memberi makan, membiayai sekolah, dan lain-lain. Namun tak jarang karena faktor-faktor tersebut orangtua bertindak semena-semena kepada anaknya, memegang kendali atas anaknya, ingin menang sendiri dan terkadang menyakiti perasaan anaknya.

Orangtua mempunyai harapan-harapan tersendiri terhadap anaknya, terkadang orangtua lebih mengutamakan keinginan pribadinya daripada keinginan dan kemampuan anak. Saat harapan yang orangtua tetapkan tidak sesuai dengan realita yang ada, maka rasa kecewa akan menghampiri. Karena hal itu, tidak jarang ada perkataan orangtua yang menyakiti hati anaknya.

Perkataan yang membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain, atau bahkan membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Mungkin maksud orangtua membandingkan anaknya itu baik, agar anaknya bisa lebih kompetitif dan termotivasi untuk mencapai apa yang diharapkan orangtuanya.

Namun dengan membandingkan, justru banyak efek buruk yang akan dirasakan anak. Anak akan merasa stres, terbebani, merasa rendah diri dan bahkan potensi yang ada dalam dirinya bisa terkikis.

Harapan tidak sesuai dengan kenyataan…

Saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan, orangtua tidak seharusnya menyalahkan anak. Karena bukankah suatu hal yang wajar bahwa tidak semua harapan akan terwujud? Ada hal-hal yang tidak bisa dikontrol oleh manusia dalam mewujudkan harapannya. Mungkin saat orangtua merasa kecewa, mereka lupa bahwa ada tangan Tuhan yang menentukan terwujud atau tidaknya sebuah harapan.

Bagi orangtua dan anak yang mungkin mengalami hal seperti ini, ada baiknya untuk introspeksi diri, saling menghormati, menghargai, tidak memaksakan keinginan, sabar dan lebih bijak. Jagalah keharmonisan keluarga agar hidup lebih tenang dan damai.