Selama satu minggu ini saya mendengar dua curhatan yang ceritanya hampir sama, yaitu merasa menikahi orang yang salah.

Kasus pertama datang dari seorang pria, sebut saja dia ‘Nimo’. Nimo ini adalah seorang yang cerdas, pendidikannya oke, pekerjaannya bagus dan tipe laki-laki yang bertanggung jawab. Beberapa bulan yang lalu dia menikahi seorang wanita yang ciri-cirinya juga hampir sama dengannya. Cerdas, pendidikan oke, pekerjaannya pun oke, plus anak orang kaya. Kalau dilihat secara kasat mata, tidak ada yang salah dengan pernikahannya. Malah mungkin sebagian orang mendambakan memiliki pasangan yang seperti istrinya Nimo. Namun hal tersebut tidak dirasakan oleh Nimo. Dari hari pertama pernikahannya saja dia merasa tidak dihargai oleh istri dan keluarga istrinya. Hal tersebut disebabkan oleh status sosial keluarganya dan keluarga istrinya cukup jauh. Awalnya Nimo berusaha untuk tidak terlalu memikirkan masalah tersebut. Dia berusaha untuk menjalani kehidupan pernikahannya sebaik mungkin. Namun lama kelamaan, dia merasa kesabarannya sudah berada di ambang batas. Sebagai seorang kepala rumah tangga, dia merasa perannya tidak dihargai. Kehidupan rumah tangganya terlalu diatur oleh mertua, dia harus menuruti apa yang diminta oleh mertuanya demi beradaptasi dengan status sosial sang mertua. Sedangkan istrinya tidak bisa berbuat apa-apa, malah cenderung bertindak seperti orangtuanya. Dia merasa sendiri, tanpa dukungan dari orang yang seharusnya paling mendukung dirinya. Dan dia sempat berpikir untuk bercerai.

Oia mungkin ada yang bertanya-tanya apa yang menyebabkan mereka memutuskan untuk menikah, saya pun gak tau, hehe. Hanya saja menurut Nimo, dia memang merasa terburu-buru karena ‘ditodong’ oleh orang tua istrinya. Padahal mereka baru beberapa bulan kenal, itupun dikenalkan teman, jadi mereka belum benar-benar mengenal satu sama lain.

Sedangkan untuk kasus kedua, datang dari seorang wanita, kita bisa menyebutnya ‘Dita’. Sebelum memutuskan untuk menikah, Dita dan suaminya ini melalui proses pacaran selama dua tahun. Beberapa bulan sebelum menikah, Dita menyadari ada sifat-sifat dari sang calon suami yang sebenarnya tidak bisa diterima olehnya. Namun karena undangan sudah terlanjur disebar, catering sudah dipesan dan gedung sudah di-booking, dia merasa enggan untuk membatalkan pernikahannya. Dia tidak ingin membuat orangtuanya malu. Singkat cerita, setelah hari pernikahannya, Dita merasakan ketidaknyamanan dalam rumah tangganya. Suaminya sangat egois dan pemalas. Dita merasa capek sendiri. Bahkan sudah beberapa bulan dia dan suaminya tidak saling berkomunikasi. Cerai sempat dia anggap menjadi solusi yang terbaik.

Dari dua kasus di atas, ada hal-hal yang merupakan kebutuhan dasar yang tidak didapatkan oleh Nimo maupun Dita. Sebagai seorang laki-laki, suami dan kepala keluarga, Nimo mempunyai pemahaman tersendiri mengenai maskulinitas. Dia cenderung ingin menunjukkan kekuatan, kemandirian, peran dan prestasi. Sedangkan pada kondisinya saat ini, dia sama sekali tidak bisa memainkan perannya. Dia merasa direndahkan, kewibawaannya dirongrong dan tidak dihargai.

Lain halnya dengan Dita, sebagai seorang wanita, ia mempunyai keinginan untuk dilindungi. Ia sangat mengharapkan pemberian rasa aman dari pasangannya, ia ingin di-support dan dilibatkan dalam semua hal yang berkaitan dengan keluarganya.

Untuk menghindari diri dari menikahi orang yang salah, ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan sebelum memutuskan untuk menikah:

Yakinkan diri kita. Mencoba meyakinkan diri kita seberapa kita yakin bahwa pasangan kita bisa berkomitmen, bisa dipercaya dan bisa memegang kesetiaan pernikahan. Yakinkan juga mengenai tujuan pernikahan kita dan pasangan. Kita bisa mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, seperti “Apa saya sudah siap menerima dia apa adanya?”

Kenali pasangan kita. Buka mata, hati, telinga dan nilai lah dengan objektif sifat pasangan kita. Amatilah karakter dan kepribadiannya, karena kita akan tinggal dengan kepribadiannya for the rest our life. Jika kita bisa mengerti, menerima dan memahami karakternya, kita bisa lanjut ke tahap pernikahan.

Financial problem. Hal super sensitif yang harus dibicarakan secara terbuka. Bicarakan semua hal yang berkaitan dengan keuangan secara jelas agar menghindari pemicu pertengkaran di kemudian hari.

Sejatinya, kita menikah karena ingin mendapatkan kenyamanan dan ketenangan dari orang yang bisa melengkapi kita kan ya. Nah makanya kita harus benar-benar berpikir sebelum memutuskan untuk menikah agar tidak menikahi orang yang salah. Semoga artikel ini ada faedahnya ya…