Semalam saya bertemu seorang teman lama, anehnya dia tidak lagi seoptimis dulu seperti yang saya kenal. Terlalu banyak keluhan yang keluar dari pembicaraannya. Ya, ada yang salah disini. Selidik punya selidik, akhirnya saya mengetahui bahwa dia telah melewati hal-hal yang kurang baik dalam hidupnya sehingga membentuk dia menjadi seperti sekarang. Dari hasil observasi saya, Inner Critic-nya aktif sejadi-jadinya, terlalu keras sehingga ketika ia melakukan kesalahan dirinya secara sadar akan menghujani dirinya sendiri dengan 1000 panah hingga dirinya luluh lantak.

Sering kita berpikir mengapa orang kok setega itu melakukan hal yang jahat dan kejam pada kita atau pada orang lain, tapi pernahkah kita merasa, bahwa kita tanpa sadar bisa melakukan hal yang lebih kejam pada diri kita sendiri? Kapankah itu terjadi? Saat Inner Critic Anda menggila, menghakimi diri anda sendiri hingga luluh lantak.

Inner Critic adalah konsep yang digunakan di psikologi populer dan psikoterapi untuk merujuk pada masalah subpersonality yang menghakimi dan merendahkan diri. Inner Critic biasanya dialami seseorang sebagai suara menyerang dari dalam diri. Inner Critic ini sering menghasilkan rasa malu, rasa kekurangan, rendah diri, bahkan sampai depresi. Hal itu pun dapat menyebabkan keraguan dan merusak kepercayaan diri.

Saya pribadi melihat Inner Critic ini sebenarnya sebagai sistem evaluasi yang ada pada diri kita yang terlalu aktif. Semua orang pasti memiliki sistem evaluasi ini, yang membedakan adalah sistem evaluasi yang sehat (baca: membangun), atau yang aktif secara berlebihan sehingga sampai menghakimi dan menyerang diri kita sendiri. Agar lebih jelas, izinkan saya memberi contoh kasus.

Anggaplah kita sedang diperjalanan untuk mengikuti sebuah interview kerja. Awalnya kita merasa senang, antusias, dan gembira. Tak disangka, tiba-tiba kita terjebak macet lama sekali, sampai-sampai kita khawatir bahwa kita akan telat sampai ke tempat interview.

Tanpa dikomando biasanya kita mulai terserang panah pertama, yaitu “Haduh kena macet lama banget nih. Kok udah satu jam belum signifkan pergerakannya, mana masih jauh lagi.” Kemudian, muncul panah-panah berikutnya. “Coba kalau tahu gini, lewat jalan lain aja deh”. “Kok dari dulu kalau bikin keputusan, salah melulu”.

Panah demi panah baru muncul yang sebenarnya tidak perlu, atau bahkan diluar konteks. Padahal, masalahnya cuma satu yaitu macet, tapi kita sibuk menambahkan panah-panah baru yang sebenarnya tidak perlu dan menancapkannya pada diri kita sendiri. Pada contoh di atas panah ke 3 saja sudah mulai menyerang diri. Bayangkan jika kita sedang dalam kondisi kurang baik, berapa panah yang akan muncul? 100? 1000? Bayangkan kira-kira apa efeknya bagi diri anda  dari serangan panah yang anda ciptakan sendiri?

Ketika menghadapi persoalan inner critic, umumnya ada dua approach yang bisa kita lakukan :

  1. Memperlakukannya sebagai musuh, mengabaikan atau melawan apa yang inner critic katakan sampai ia berhenti.
  2. Memperlakukannya sebagai teman, untuk bisa berdamai dan mengembalikan fungsinya sebagai sistem evaluasi seperti yang sudah dibahas di atas. Cara ini melihat inner critic yang aktif sebagai bentuk proteksi diri (self defense mechanism), namun dengan cara yang kasar, terselubung, dan salah. Dengan melakukan approach ini kita dituntut untuk berdamai dan lebih memperhatikan diri sendiri. Contoh : Meluangkan waktu untuk me time, memberi reward untuk diri, mendengarkan keinginan diri, dlsb.

Approach mana yang dilakukan biasanya bergantung kepada bagaimana inner critic itu bermanifestasi. Jika inner critic yang muncul intens dan kuat, memperlakukannya sebagai teman akan jauh lebih berhasil. Namun apa bila inner critic yang muncul ringan, maka akan jauh lebih mudah ketika kita memperlakukannya sebagai musuh, mengabaikan atau bahkan melawannya.

Jelas ya, yuk sekarang coba kita review ke diri kita masing-masing. Masihkah kita menghujani 1000 panah yang kita buat ke diri kita sendiri? Jika ya, maka sudah saatnya kita stop dan  buat menjadi lebih baik. 😉