Pengalaman memiliki anak yang cerdas adalah pengalaman yang seru tapi juga cukup menggemaskan (baca:kesal), at least itu yang saya alami. Freya, anak perempuan pertama saya yang saat ini berusia 3,5 tahun. Sudah bisa membaca sejak usia 2,5 tahun, super aktif, sangat senang berbicara, bahkan seringkali bisa berargumen bahkan melakukan trick agar orang lain mau mengikuti kehendaknya haha. Hal yang bikin menggemaskan lagi, justru ketika diberi instruksi seringkali malah melakukan hal yang kebalikan nya.

Ya, harus saya akui memang bukan hal yang mudah untuk mengiringi pertumbuhan anak yang seperti ini. Terkadang emosi bisa terpicu ketika berhadapan dengan anak-anak yang punya kecerdasan lebih. Nah, kali ini saya ingin berbagi tips yang saya dan istri lakukan untuk menghandle anak-anak seperti Freya, meskipun tetap butuh extra effort tapi cara ini terasa cukup efektif daripada menggunakan cara konvensional.

1. Gunakan kalimat yang berisi pilihan atau kalimat berita yang sugestif daripada menggunakan kalimat perintah

Hal yang terjadi pada Freya ketika diberi instruksi dengan kalimat perintah “Kak, bereskan mainan nya!” seringkali hasilnya malah kebalikan nya, ia malah membuat mainan lain yang masih rapih berantakan. Atau respon yang sering muncul juga instruksi itu diabaikan sama sekali seperti pura-pura tidak ia dengar.

Saya dan istri sempat dibuat kesal dan kebingungan dengan tingkahnya yang seperti ini. Pada akhirnya untuk kasus membereskan mainan, approach yang dilakukan saya ubah. Contohnya, “Kak yuk beresin mainannya, kan kalo mainannya dirapihin kakak bisa leluasa kalo mau dance ga keinjak-injak mainannya, mainannya juga jadi ga rusak biar bisa dimainin lagi nanti.”

Contoh lain soal makan, anak saya ini agak picky soal makanan. Ketika dikasih ikan dia minta telur, dikasih sayur mintanya keju, dikasih keju mintanya ikan, dipaksa? ga mau makan. Istri saya biasanya kasih opsi yang keduanya memang sudah diset sebagai menu makanan. Misal, “Kak, makan nya mau sama ikan atau telur?” Dengan dikasih opsi dia cenderung memilih opsi yang disediakan daripada memilih hal yang tidak tersedia.

2. Jelaskan aturan-aturan dengan baik dan sertakan alasannya kenapa dia harus mengikuti

“Kak yuk beresin mainannya, kan kalo mainannya dirapihin kakak bisa leluasa kalo mau dance ga keinjak-injak mainan nya, mainannya juga jadi ga rusak biar bisa dimainin lagi nanti.” dalam set intruksi ini ada aturan atau intruksinya sudah jelas dan bisa dijadikan contoh. Kata kuncinya adalah  “bisa leluasa kalo mau dance ga keinjak-injak mainan nya, mainan nya jadi ga rusak dan bisa dimainin lagi nanti.”

3. Hargailah keinginan-keinginannya

Anak-anak memang seringkali sulit dilarang, contohnya ketika ke sebuah minimarket. Anak saya selalu melirik kinderjoy dan langsung mengambilnya sambil melihat-lihat mainan barbie, cupcake toy, atau mainan lain yang ada disana. Semuanya ingin dia beli sekaligus. Bahkan seringkali dia bilang ke kakeknya mau beli makanan tapi sesampainya di mini market dia ambil mainan, sehingga kakek nya pasrah membelikan karena susah katanya meskipun sudah dilarang.

Daripada melarangnya, saya lebih senang mengiyakan kemudian memberi batasan. Contohnya, “Kakak mau semua? Boleh kok, tapi untuk sekarang pilih satu aja ya. Next time kita beli yang lain. Mau pilih yang mana untuk sekarang?”. Alhasil Freya dengan senang hati memilih salah satunya dulu.

4. Hindari cara mengancam / menyuap

Hindari cara mengancam, misal : “Kalo ga nurut nanti ga dibeliin mainan lagi lho!” terlalu sering diancam seringkali malah membuat anak mengacuhkan apa yang anda katakan padanya. Begitu juga dengan menyuap, misal “Beresin mainannya, nanti dibeliin mainan baru.” Dengan cara begini anak jd terlatih untuk pamrih, bukan untuk kebaikan bersama tapi ia membereskan mainan untuk dapat mainan baru.

Daripada menggunakan cara mengancam/menyuap, lebih baik gunakan cara yang lebih persuasif dengan menjelaskan manfaat apa yang bisa dia dapat dari melakukan instruksi yang kita berikan.

5. Ketika dia salah, hindari sandarkan kesalahan nya pada pribadinya, tapi sandarkan pada perbuatan salahnya

Ketika anak melakukan kesalahan, ada 2 respon orang tua yang sering saya lihat. Pertama orang tua yang langsung menghardik dan melabeli anaknya, “Haduh kok kamu bandel banget, disuruh hati-hati malah lari-lari terus dasar nakal!” atau yang kedua yaitu orang tua yang menyalahkan hal atau benda lain untuk menutupi kesalahan anaknya semisal “Temboknya nakal ya!” ketika anaknya lari-larian dan menabrak tembok.

Melabeli anak atas kesalahannya sama dengan memupuk image dari kata-kata anda dibenak sang anak. Ia akan merasa dirinya bandel, nakal, dan lain sebagainya. Anak jg akan lebih berontak pada setiap instruksi dari anda. Begitu juga dengan menyalahkan hal atau benda lain, hal ini malah membentuk anak anda untuk mencari hal lain yang bisa disalahkan untuk menutupi kesalahan yang ia lakukan.

So, daripada seperti itu beritahu ia bahwa ia salah tapi iringi dengan yang benar itu harus seperti apa. Contohnya yang saya lakukan dalam hal ini, “Kak, lain kali lebih hati-hati ya biar ga nabrak tembok. Kalo mau lari-lari coba cari tempat yang lebih luas, okay?”

6. Apresiasi ketika dia melakukan hal yang baik dan benar

Ketika anak anda melakukan hal yang baik dan benar jangan ragu untuk memuji dan memberinya apresiasi, agar ia lebih termotivasi untuk melakukan hal yang baik dan benar tersebut. Bahkan sekali-kali anda bisa memberikan reward agar anak kita lebih senang.

Apresiasi itu hal sederhana yang berdampak besar, misal “Pintar sekali anak bunda, sudah main dirapihin lagi.” Hal itu jg menanamkan pada anak anda bahwa anda mengakui effort yang dia lakukan.

 

Semoga 6 tips tadi bisa memberi gambaran dan solusi untuk Anda yang memiliki dan merasakan lika-liku mengasuh dan mengiringi tumbuh kembang buah hati kita. Memang tidak mudah, tapi ketika sudah dibiasakan maka cara di atas akan sangat efektif dan jauh memudahkan anda.