Beberapa waktu lalu publik dikejutkan oleh pernyataan seseorang yang mengaku bahwa dirinya mengalami penganiayaan. Namun hanya berselang dua hari sejak pernyataannya ramai diperbincangkan di berbagai media, orang tersebut mengaku bahwa pernyataannya adalah berita bohong.

Sebenarnya keberadaan berita bohong atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘hoax’ bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum era internet, berita bohong sudah ada. Namun seiring berkembangnya teknologi informasi khususnya media sosial, berita bohong pun semakin mudah menyebar.

Berita bohong/ hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar yang dengan sengaja dibuat namun disajikan seolah-olah benar adanya.

Mengutip dari laman Wikipedia, kata hoax mulai digunakan sekitar tahun 1808. Kata hoax dipercaya berasal dari kata hocus yang berarti ‘untuk mengelabui’. Sedangkan kata hocus sendiri merupakan penyingkatan dari hocus pocus, semacam mantra yang kerap digunakan pesulap dalam pertunjukkannya, serupa dengan ‘sim salabim’.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, eksistensi hoax saat ini terus meningkat karena pengaruh dari media sosial. Dengan media sosial, orang-orang dengan mudah menyebarkan suatu informasi, tak terkecuali informasi palsu/ berita bohong.

Biasanya kita akan banyak menjumpai berita-berita bohong pada news feed media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan broadcast WhatsApp. Isu-isu yang kerap dijadikan bahan hoax antara lain agama, politik, bisnis, etnis, kesehatan, bencana alam dan lain-lain.

Berita bohong sangat cepat menyebar di media sosial dan seringkali menjadi viral. Dikutip dari laman Independent.ie, menurut para ilmuwan, psikolog dan pakar jurnalisme ada beberapa alasan yang menyebabkannya, antara lain:
  • Kita menginginkan konfirmasi mengenai pandangan kita terhadap suatu hal, dan media sosial adalah tempat yang tepat.

Seorang dosen psikologi dari Nottingham Trent University, Dr Jens Binder mengatakan bahwa kita mengkonsumsi berita bukan hanya karena fakta yang ada. Tetapi juga untuk memvalidasi pandangan/ keyakinan kita terhadap suatu hal melalui konfirmasi. Namun sayangnya saat melakukan konfirmasi, ada bias di dalamnya, karena kita hanya mempercayai informasi yang sesuai atau sejalan dengan pandangan kita.

  • Informasi adalah hal yang penting dalam hubungan sosial di masyarakat, meskipun ternyata informasinya palsu.

Nik pollinger, seorang antropolog digital mengatakan bahwa selama kita memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap sumber informasi, maka kebenaran/ fakta objektif yang disampaikan menjadi kepentingan sekunder. Karena yang terpenting adalah informasinya. Semakin sensasional informasi yang kita bagikan, semakin tinggi pula nilai sosial yang didapat.

  • Masyarakat menyukai gosip.

Beberapa orang menyebarkan berita palsu di media sosial hanya agar terlibat dalam desas-desus isu terbaru di masyarakat. Hal tersebut terjadi hanya karena konten yang disebar relevan dengan kontak sosial mereka.

Meskipun keberadaan hoax bukanlah hal yang baru, namun pada kenyataannya banyak sekali orang yang mudah percaya dengan informasi-informasi palsu. Menurut pandangan psikologi, alasan mengapa banyak orang percaya pada hoax adalah:
  • Bias konfirmasi

Seperti halnya mengapa hoax bisa viral, alasan mengapa orang percaya pada berita bohong juga salah satunya adalah bias konfirmasi. Bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk mempercayai informasi yang sesuai dengan nilai-nilai atau keyakinan yang kita miliki. Misal, ketika saya tidak suka terhadap suatu kelompok, produk, atau apapun, saat ada informasi yang sesuai dengan keyakinan saya, saya akan dengan mudah mempercayainya. Bias ini membuat keinginan untuk melakukan pengecekan kebenaran terhadap informasi tersebut menjadi berkurang.

  • Terbatasnya pengetahuan

Keterbatasan pengetahuan seseorang terhadap suatu informasi yang ia terima dapat menjadi salah satu penyebab mudahnya percaya pada hoax. Hal yang dapat kita lakukan agar memiliki pengetahuan yang luas adalah dengan cara membaca. Fakta bahwa minat baca orang Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara menjadi alasan kuat mengapa orang Indonesia mudah tertipu berita bohong.

  • Mengalami information overload

Banyaknya informasi yang diterima membuat orang malas untuk membaca dan memahami berita dengan seksama. Oleh karena itu kita dengan mudahnya terjebak dengan berita-berita yang tidak benar.

Agar dapat menyaring dan terhindar dari jebakan informasi-informasi palsu khususnya di media online, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Diantaranya adalah:
  • Baca informasi/ berita secara utuh

Untuk melakukan identifikasi suatu berita, kita bisa mengecek kesesuaian antara judul dengan isi dari berita tersebut. Karena biasanya berita bohong/ hoax tidak sesuai antara judul dan isi berita. Berita bohong biasanya memakai judul yang provokatif, sensasional dan heboh, namun setelah dibaca, isi beritanya tidak mencerminkan judulnya. Isi berita dari hoax biasanya menyudutkan salah satu pihak, diskriminatif, tidak masuk akal dan mengada-ada. Selain itu informasi palsu biasanya tentang isu yang sedang jadi tren di masyarakat.

  • Perhatikan sumber beritanya

Sebelum menerima suatu informasi, biasakan untuk mencari tau sumber dan asal beritanya. Jika sumber berita berasal dari media yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers, maka kemungkinan besar berita yang disajikan adalah informasi yang benar. Namun jika sumber berita berasal dari media yang belum terverifikasi, ada kemungkinan bahwa berita tersebut hoax. Untuk itu kita harus mengecek kebenaran berita tersebut.

  • Berpikir kritis

Jika kita memperoleh informasi yang tampak janggal, luangkanlah waktu untuk menelusuri kebenarannya. Kita bisa menelusurinya melalui browser mesin pencarian, seperti Google. Tetapi pastikan untuk mempertimbangkan kredibilitas halaman yang kita baca.

  • Cek foto/ gambar yang ada di berita

Terkadang untuk memberi kesan nyata terhadap suatu berita, para pembuat berita menampilkan foto/ gambar sebagai unsur pendukung. Sedangkan foto dapat dengan mudah untuk dimanipulasi dengan bantuan aplikasi edit foto. Maka jika foto yang ada di dalam berita tersebut tampak mencurigakan, lakukanlah pencarian gambar terbalik.

Dengan mengetahui alasan mengapa masih banyak orang yang percaya berita bohong dan mengetahui bagaimana cara mengidentifikasi informasi palsu, kita diharapkan dapat membentengi diri dari hoax.

Namun sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya, apa sih alasan seseorang menyebar hoaks?
  • Bangga mejadi orang yang pertama menyebarkan informasi

Menjadi orang yang pertama menyebarkan informasi menjadi suatu kebanggaan bagi beberapa orang, terutama kalangan remaja. Hal ini karena mereka akan dianggap paling update dan berwawasan walaupun tidak memperhatikan apakan berita yang disebar merupakan berita asli atau palsu.

  • Suka berbagi, malas membaca

Berkembangnya teknologi informasi digital membuat kita mudah dan cepat dalam mendapatkan dan membagikan informasi. Namun sayangnya perkembangan teknologi tersebut tidak dibarengi dengan minat baca yang ada. Maka kadang kita membagikan berita yang sebenarnya belum kita baca sama sekali.

  • Mencari sensasi

Umumnya berita bohong merupakan berita yang sensasional dan menghebohkan. Hal tersebut kadang membuat orang refleks membagikan berita tersebut walaupun tidak tau berita tersebut benar atau tidak. Malah sebagian orang tetap membagikan berita yang sudah disadarinya merupakan berita palsu hanya untuk mencari sensasi.

  • Tidak tau apa itu hoax

Sebagian dari penyebar berita palsu, banyak yang tidak tau apa itu hoax. Umumnya kelompok orang ini adalah orang-orang tua yang baru mempunyai media sosial. Biasanya mereka menyebarkan berita hanya karena tertarik dengan judul, foto atau isinya saja.

  • Ikut-ikutan tren

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa informasi palsu biasanya mengangkat isu-isu terhangat yang ada di masyarakat, maka semakin banyak dibicarakan hal tersebut membuat kita ingin ikut menyebarkannya agar tidak dicap ketinggalan zaman.

Sering membaca, melihat dan mendengar berita bohong dapat menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan sosial juga kesehatan mental kita. Dengan berita bohong, publik akan digiring untuk saling membenci dan berprasangka buruk satu sama lain sehingga menimbulkan perpecahan, keresahan, diskriminatif terhadap suatu kelompok dan menjadi pribadi yang intoleran.

Sedangkan bagi kesehatan mental, berita negatif secara signifikan dapat mengubah suasana hati seseorang seperti merasa cemas dan sedih. Dalam berinteraksi sosial pun kita akan cenderung lebih reaktif, merasa terancam dan berprasangka negatif.

Maka kurangilah konsumsi informasi palsu demi menjaga kesehatan mental dan keselarasan kehidupan sosial kita dengan cara tidak menelan mentah-mentah berita yang kita terima. Selalu lakukan cek dan ricek, analisis data dan fakta mengenai kebenaran suatu berita. Jadilah pengguna teknologi informasi yang cerdas, berpikiran kritis dan berwawasan luas.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk lebih berhati-hati terhadap hoaks.