Setelah menangani client akhir-akhir ini puji syukur pengetahuan dan pengalaman saya makin bertambah. Kali ini tentang seseorang yang memiliki Abandonment IssuesAbandonment Issues atau sederhananya kita bisa sebut masalah yang muncul karena sering merasa terabaikan.

Dalam kasus “Abandonment Issues” ini saya melihat ada beberapa keyword yang sering muncul : “Gak ada yang peduli sama aku, Orang yang aku sayangi ternyata tetap meninggalkanku, kok gw ga Ianggep, memang ga ada yang bisa ngertiin saya, sampai arti nyata dari ungkapan da aku mah apa atuh.”

Abandonment Issues bertanggung jawab terhadap semua cerita hidup seseorang saat mengalami penolakan dan pengabaian. Pada dasarnya, Abandonment Issues ini muncul sebagai bentuk proteksi dari subconcious agar hati kita tidak lagi tersakiti (bentuk dari self-defense mechanism), ini justru yang menjadi letak permasalahannya. Subconcious kita tidak memiliki filter, apakah sinyal pertahanan yang muncul ini baik untuk dilaksanakan atau TIDAK SAMA SEKALI.

Self-defense mechanism akan bekerja secara otomatis untuk menutup hati kita dari rasa sakit yang akan/sepertinya/pasti timbul karena penolakan dan pengabaian. Padahal jika dilakukan penelusuran terbalik kita akan semakin tahu, hati yang tertutup adalah hati yang tersakiti dan satu-satunya cara terhindar dari sakit hati akibat penolakan dan pengabaian itu justru dengan belajar dari pengalaman tersakiti tersebut, agar kelak kita semakin tahu bagaimana caranya membuka hati kita lebih lapang lagi. BUKAN MALAH DITUTUPI!

Menutup hati ini biasanya akan berdampak pada hubungan percintaan, pertemanan sampai hubungan keluarga. Ini alasan kenapa Abandonment Issues merupakan sesuatu yang harus kita perhatikan.

Dari hasil sharing bersama client saya tersebut, ada 5 poin yang biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki Abandonment Issues :

1. Ia selalu mencari kelemahan atau kesalahan orang lain.

Ketika Ia menemukan seseorang yang baik untuk dijadikan partner, orang yang memiliki Abandonment Issues ini akan mulai untuk mencari kesalahan orang lain. Ia mencari apa yang salah bukan apa yang benar. Orang lain tidak pernah meninggalkannya, tapi Ia yang justru meninggalkan orang tersebut tanpa memberikan kesempatan untuk membuktikan bahwa orang tersebut layak menjadi good partner.

2. Orang akan mengira bahwa Ia pemalu atau tertutup.

Ia seakan sulit dimengerti karena Ia tidak percaya orang lain. Ia takut ketika Ia membiarkan orang lain untuk masuk kehidupannya, maka ia akan tersakiti. Pada akhirnya Ia akan memilih/berakhir pada sebuah kesendirian.

3. Ia sering kali trying to hard, jatuh berkali-kali, merasa kecewa terus menerus, lagi dan lagi.

Biasanya ketika Ia menjalani hubungan Ia tidak tahu bagaimana caranya memposisikan diri. Ia merasa tahu caranya menyayangi, tapi sebenarnya Ia tidak tahu. Ia merasa Ia sudah memberikan yang terbaik untuk pasangannya tapi tetap saja merasa kok pasangannya tidak mengapresiasi apa yang telah Ia lakukan.

4. Ia hanya senang mengejar apa yang membuat Ia tertarik.

Ketika Ia sangat tertarik dengan seseorang maka Ia akan sekuat tenaga untuk mendapatkannya (bahkan seringkali CARI PERHATIAN), akan tetapi ketika hubungan sudah terjalin Ia akan segera bosan. Ia akan mulai berubah dan akhirnya mengakhiri hubungan yang sudah dibangun.

5. Ia adalah seorang yang perfeksionis.

Ada persepsi dibenaknya, ketika semuanya terlihat sempurna maka ia merasa bahwa dirinya tidak akan diabaikan atau ditolak. Ini berlaku dalam berbagai hal seperti pekerjaan, cara berpenampilan, postur badan, ekspresi diri, gaya hidup, dan lain sebagainya. Perfeksionis ini bisa juga diibaratkan sebagai pencuri, mencuri kebahagiaanya yang sebenarnya dengan memakaikan TOPENG hanya untuk menghindari penolakan dan juga pengabaian. Contoh konkritnya adalah bentuk Kepura-puraan (Pretending). Pura-pura baik-baik saja, pura-pura bahagia, pura-pura baik, dan pura-pura yang lainnya.

Cukup berbahaya kan kalo ternyata ada Abandonment Issues pada diri kita?

Nah, dari ke 5 poin kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang yang memiliki Abandonment Issues ini bisa kita jadikan sebagai acuan introspeksi diri apakah ada kebiasaan-kebiasaan itu pada diri kita?

Jika ada?

Kembali ke 3 langkah simple yang biasa saya lakukan : AKUI, TERIMA, KONVERSI/LEPASKAN.